Hitung Pesangon PHK dan Anggaran Bertahan 6 Bulan
Baru kena PHK dan bingung berapa hakmu serta cara membaginya? Ini contoh hitungan pesangon dan anggaran bertahan 6 bulan agar uang tidak cepat habis.
Surat PHK baru diterima dan kepala langsung penuh: besok kerja di mana, cicilan bagaimana, pesangon berapa. Di saat seperti ini orang mudah mengambil keputusan terburu-buru, misalnya langsung membuka usaha dengan seluruh pesangon atau meminjamkannya ke saudara. Tarik napas dulu. Tiga hal perlu dikerjakan berurutan: pahami hakmu, hitung kebutuhan bertahan, lalu bagi uangnya dengan aman.
Catatan penting: ini informasi umum, bukan nasihat hukum. Konsultasikan kasusmu ke serikat pekerja, dinas tenaga kerja, atau pendamping hukum.
Pegang dulu dokumen pentingmu
Sebelum menandatangani apa pun, kumpulkan salinan perjanjian kerja, slip gaji terakhir, surat PHK, dan bukti kepesertaan BPJS. Baca surat PHK dengan cermat: alasan PHK, tanggal efektif, dan rincian hak. Jangan menandatangani surat persetujuan kalau kamu belum paham isinya. Tanyakan batas waktu menanggapi, karena ada tenggat yang bisa memengaruhi hakmu.
Hak yang umumnya dihitung
Menurut PP 35/2021, kompensasi PHK terdiri dari uang pesangon, uang penghargaan masa kerja (UPMK), dan uang penggantian hak (UPH), misalnya sisa cuti yang belum diambil. Besarnya bergantung pada masa kerja dan alasan PHK. Alasan PHK menentukan pengali, bisa 1 kali, kurang, atau lebih dari ketentuan dasar, jadi periksa pasal yang berlaku untuk kasusmu.
Ingin lebih dalam? Artikel ini baru membahas sebagian kecil. Di ebook Rencana B Saat PHK, kamu akan mempelajari lebih jauh:
- Membaca surat PHK, hak menolak dalam 7 hari kerja, dan dokumen yang wajib kamu pegang
- Menghitung pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak menurut PP 35/2021, termasuk pengali sesuai alasan PHK
- Mencairkan JHT dan JKP (60% upah sampai 6 bulan), memahami pajak final pesangon, dan memakai BPJS Kesehatan setelah PHK
Semua langkahnya disusun berurutan dan bisa langsung dipraktikkan. Lihat isi bukunya.
Contoh hitungan dengan pengali 1
Misalkan upah terakhir Rp6.000.000 per bulan dan masa kerja 8 tahun 4 bulan. Contoh ini memakai asumsi pengali 1, jadi sesuaikan dengan alasan PHK di kasusmu.
| Komponen | Dasar | Hitungan | Nilai |
|---|---|---|---|
| Uang pesangon | Masa kerja 8 tahun, 9 bulan upah | 9 x 6.000.000 | Rp54.000.000 |
| UPMK | Masa kerja 6 sampai kurang dari 9 tahun, 3 bulan upah | 3 x 6.000.000 | Rp18.000.000 |
| UPH | Sisa cuti dan lainnya | Sesuai kasus | Belum dihitung |
| Subtotal | Rp72.000.000 |
Hitungannya: 54 juta + 18 juta = 72 juta rupiah, belum termasuk UPH dan pajak. Pesangon dikenai pajak final berjenjang, jadi uang yang kamu terima bisa lebih kecil. Cek ketentuan pajak terbaru di situs resmi Direktorat Jenderal Pajak.
Cek perlindungan lain
Selain pesangon, periksa tiga hal berikut.
- JHT: bisa dicairkan dengan syarat tertentu, dan cairnya tidak selalu otomatis.
- JKP: bagi yang memenuhi syarat, manfaat tunai sebesar 60 persen upah selama maksimal 6 bulan, plus akses pelatihan dan informasi pasar kerja.
- BPJS Kesehatan: tanyakan cara mempertahankan kepesertaan agar tidak terputus.
Syarat dan batas manfaat bisa berubah, jadi pastikan di kanal resmi BPJS Ketenagakerjaan.
Hitung anggaran bertahan 6 bulan
Ambil pengeluaran dasarmu, bukan pengeluaran saat masih bergaji. Misalkan kebutuhan pokok keluarga Rp4.500.000 per bulan (makan, listrik, sewa atau cicilan wajib, transport, sekolah). Untuk 6 bulan: 4.500.000 x 6 = Rp27.000.000.
Jika kamu memenuhi syarat JKP dengan upah Rp6.000.000, manfaatnya 60 persen, atau Rp3.600.000 per bulan. Bila cair penuh, selisih kebutuhanmu tinggal 4.500.000 − 3.600.000 = Rp900.000 per bulan. Tetapi jangan bergantung pada ini sebelum dana benar-benar cair.
Bagi pesangon dengan urutan aman
Dari subtotal Rp72.000.000 di atas (sebelum pajak, untuk contoh), pembagian yang masuk akal:
| Pos | Nominal |
|---|---|
| Dana bertahan 6 bulan | Rp27.000.000 |
| Lunasi utang berbunga tinggi | Rp10.000.000 |
| Modal uji coba usaha kecil | Rp15.000.000 |
| Dana darurat dan pendidikan | Rp20.000.000 |
| Total | Rp72.000.000 |
Cek: 27 + 10 + 15 + 20 = 72 juta rupiah. Simpan dana bertahan di tempat yang aman dan mudah ditarik, bukan di investasi berisiko tinggi.
Menimbang kerja lagi atau usaha
Cari kerja dan mulai usaha kecil bisa berjalan bersamaan. Uji ide usaha dengan modal terbatas, hitung titik impasnya, dan jangan memasukkan seluruh pesangon sekaligus. Kalau setelah tiga bulan belum ada tanda hidup, kamu bisa berhenti tanpa kehabisan napas.
Peta 90 hari pertama
Agar tidak merasa tenggelam, bagi tiga bulan pertama menjadi tiga fase.
| Fase | Fokus | Contoh tugas |
|---|---|---|
| Hari 1 sampai 14 | Amankan dokumen dan hak | Kumpulkan berkas, hitung hak, urus BPJS |
| Hari 15 sampai 45 | Rapikan keuangan | Susun anggaran bertahan, pangkas biaya, kabari keluarga |
| Hari 46 sampai 90 | Tentukan arah | Kirim lamaran, uji usaha kecil, perbarui CV |
Centang tugas setiap minggu. Perasaan "sudah bergerak" sangat membantu menjaga semangat selama masa tidak pasti.
Kesalahan yang sering terjadi
Beberapa kesalahan berulang pada orang yang baru terkena PHK:
- Menandatangani surat tanpa membaca rincian hak.
- Mencampur uang pesangon dengan uang belanja harian sehingga sulit dilacak.
- Meminjamkan sebagian besar pesangon ke kerabat tanpa catatan.
- Membeli kendaraan atau barang besar untuk "usaha" tanpa rencana.
- Menunda mengurus BPJS sampai kepesertaan terputus.
Pisahkan rekening pesangon dari rekening harian. Tarik hanya sesuai anggaran bulanan yang sudah ditetapkan. Dengan cara ini, kamu bisa melihat dengan jelas berapa bulan lagi uangmu bertahan.
Hindari jebakan
Waspadai tawaran investasi bodong yang menyasar penerima pesangon, dan hindari pinjol ilegal. Janji keuntungan besar dan cepat hampir selalu bermasalah. Periksa legalitas lewat kanal resmi OJK sebelum menyerahkan uang.
Dan terakhir, jaga dirimu sendiri. Kehilangan pekerjaan bukan hanya soal uang, tetapi juga rasa harga diri. Ceritakan keadaanmu kepada keluarga dan satu dua teman dekat, sehingga kamu tidak memikul semuanya sendirian. Tetapkan rutinitas harian: bangun pada jam yang sama, luangkan waktu mencari kerja, dan sisihkan waktu untuk berolahraga. Orang yang tetap punya ritme biasanya lebih tenang mengambil keputusan keuangan. Dan bila angka-angkamu terlihat tidak cukup, bicarakan dengan konselor atau lembaga resmi sebelum meminjam dari sumber yang berisiko.
Satu tips terakhir soal pajak dan pencairan: simpan semua bukti penerimaan pesangon, termasuk rincian potongan pajaknya, karena dokumen itu akan kamu perlukan saat melaporkan SPT tahunan. Bila ada hal yang tidak kamu pahami, tanyakan ke kantor pajak atau layanan resmi, bukan ke orang yang menawarkan jasa dengan imbalan tertentu. Dan selama belum yakin, jangan tergesa memindahkan seluruh dana ke produk baru.
Kalau artikel ini membantu, langkah berikutnya ada di ebook Rencana B Saat PHK.
Pelajari sampai tuntas di “Rencana B Saat PHK”
Hari-hari pertama setelah PHK sering terasa kabur, padahal di situlah keputusan penting diambil: surat apa yang ditandatangani, hak apa yang ditagih, dan ke mana uang pesangon diba...