Teh Jahe dan Teh Serai
Pak Harun selalu datang ke puskesmas pukul enam lewat lima belas, empat puluh lima menit sebelum loket dibuka. Kebiasaan itu ia bawa dari tiga puluh dua tahun menjadi masinis: lebih baik menunggu di peron daripada mengejar kereta.
Ia membawa tiga benda setiap Kamis. Kartu berobat yang ujungnya sudah lecek. Termos kecil berisi teh jahe dengan gula batu. Dan buku teka-teki silang yang dibelinya di kios koran depan stasiun, edisi yang sama yang ia beli sejak tahun sembilan puluhan, walau harganya sekarang empat kali lipat.
Kursi tunggu di puskesmas itu deretan kursi besi biru yang dingin di pagi hari. Pak Harun selalu duduk di kursi ketiga dari kiri, karena kursi pertama goyang dan kursi kedua tepat di bawah kipas angin yang berisik.
Kamis itu, kursi keempat sudah terisi.
Perempuan itu kira-kira sebaya dengannya, mungkin sedikit lebih muda. Rambutnya disanggul rapi, kerudungnya berwarna ungu muda, dan ia duduk dengan punggung lurus seperti orang yang terbiasa berdiri di depan banyak orang. Di pangkuannya ada termos hijau dan buku tulis bergaris.
"Kursi ini kosong?" tanya Pak Harun, meski ia tahu jawabannya.
"Kosong, Pak. Silakan."
Mereka duduk berdampingan dalam diam yang sopan. Pak Harun membuka teka-teki silangnya. Nomor dua belas menurun, enam huruf: tarian tradisional dari Malang yang memakai topeng.
Ia mengetuk-ngetukkan pensil ke dagu. Perempuan di sebelahnya melirik.
"Topeng," gumam Pak Harun. "Enam huruf. Bapang? Itu lima."
"Malangan," kata perempuan itu tanpa menoleh. "Wayang topeng Malangan. Tapi kalau enam huruf, mungkin yang dimaksud Gunung Sari. Itu tokohnya. Bukan, itu sembilan." Ia akhirnya menoleh, dan matanya berbinar seperti murid yang menemukan jawaban. "Coba lihat huruf mendatarnya."
Pak Harun memperlihatkan bukunya. Mereka berdua membungkuk di atas halaman itu. Perempuan itu menunjuk dengan jari yang sedikit bengkok di ruas, jari seseorang yang dulu banyak menari.
"Bapang, Pak. Itu lima huruf. Tapi lihat, kotak pertamanya bersambung ke mendatar nomor sebelas. Mungkin pertanyaannya salah cetak."
"Koran ini memang suka salah cetak," kata Pak Harun. "Sejak tahun sembilan puluhan."
Perempuan itu tertawa kecil, menutup mulut dengan punggung tangan. "Saya Lastri."
"Harun."
Loket dibuka. Nomor antrean dipanggil. Mereka berpisah ke ruangan yang berbeda: Pak Harun untuk cek tekanan darah, Bu Lastri untuk kontrol gula. Ketika Pak Harun keluar dengan kertas resep di tangan, kursi keempat sudah kosong. Tapi di atasnya tertinggal sebuah tutup termos plastik hijau.
Kamis berikutnya, Pak Harun datang pukul enam lewat lima, sepuluh menit lebih awal dari biasa. Ia tidak tahu kenapa. Ia hanya merasa perlu.
Bu Lastri datang pukul enam lewat dua puluh. Ia tersenyum melihat tutup termos hijau di tangan Pak Harun.
"Saya kira hilang di angkot," katanya.
"Ketinggalan di kursi. Saya simpan."
"Terima kasih, Pak Harun." Ia membuka termosnya, menuang ke tutup yang baru dikembalikan, lalu menyodorkannya. "Teh serai. Pakai daun pandan sedikit. Untuk orang yang gulanya harus dijaga, ini lumayan."
Pak Harun mencicipi. Hangat, wangi, dan hanya sedikit manis. Ia membuka termosnya sendiri dan menuang teh jahe ke cangkir tutup termos miliknya.
"Teh jahe gula batu," katanya. "Resep almarhumah istri saya. Gulanya sudah saya kurangi. Dokter marah kalau tidak."
Bu Lastri mencicipi. Ia mengangguk pelan, seperti juri yang menilai sebuah tarian. "Jahenya dibakar dulu, ya? Ada rasa asapnya."
Pak Harun terkejut. "Ibu tahu dari mana?"
"Ibu saya dulu juga begitu. Jahe dibakar di atas arang sampai kulitnya hitam, baru dimemarkan." Ia menatap uap yang naik dari cangkir. "Sudah lama sekali saya tidak minum teh jahe seperti ini."
Begitulah Kamis-Kamis berikutnya berjalan. Pak Harun membawa teh jahe dan teka-teki silang. Bu Lastri membawa teh serai dan buku tulis bergaris, yang ternyata berisi resep-resep masakan yang ia kumpulkan dari ingatan ibunya: rawon, pecel, jenang sumsum, sambal tumpang. Resep tanpa takaran, hanya "garam secukupnya, rasakan sendiri".
"Kenapa tidak ditulis takarannya?" tanya Pak Harun suatu kali.
"Karena ibu saya tidak pernah menakar. Saya juga tidak. Kalau ditulis, nanti rasanya bukan rasa ibu saya lagi."
"Tapi kalau tidak ditulis, nanti cucu Ibu tidak bisa membuatnya."
Bu Lastri terdiam lama. "Cucu saya tinggal di Jakarta. Mereka makan di luar."
Pak Harun tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia menuang teh jahe lagi ke cangkir Bu Lastri, dan mereka menghabiskan sisa antrean dengan mengerjakan teka-teki silang bersama. Bu Lastri ternyata hafal nama semua tari daerah, semua gunung di Jawa Timur, dan semua menteri pendidikan sejak tahun tujuh puluhan. Pak Harun hafal nama semua stasiun dari Malang sampai Banyuwangi, semua jenis lokomotif, dan semua jadwal kereta yang sudah tidak ada lagi.
Pada Kamis keenam, Pak Harun datang pukul enam tepat, dengan termos teh jahe, buku teka-teki silang, dan sesuatu yang baru: dua potong kue lapis yang ia beli di pasar Oro-Oro Dowo pukul lima pagi, dibungkus daun pisang.
Ia duduk di kursi ketiga dari kiri. Ia menunggu.
Pukul enam lewat dua puluh, kursi keempat masih kosong.
Pukul tujuh, loket dibuka. Nomor-nomor dipanggil. Pak Harun menyerahkan kartunya, diperiksa, keluar dengan resep, dan kembali duduk di kursi ketiga.
Pukul sembilan, petugas kebersihan mulai menyapu. Kue lapis di pangkuan Pak Harun sudah tidak hangat lagi.
Kursi keempat tetap kosong.