Kotak Pengembalian Pukul Lima
Kotak pengembalian buku di samping pintu perpustakaan itu terbuat dari kayu jati, dicat hijau tua, dengan mulut sempit seperti kotak pos. Umurnya lebih tua daripada sebagian besar pegawai yang sekarang bekerja di gedung itu. Setiap pukul lima pagi, sebelum loket dibuka, Pak Sabar membukanya dengan kunci kuningan yang ia gantungkan di ikat pinggang, lalu menyerahkan isinya kepada siapa pun yang datang paling awal.
Pagi itu, yang datang paling awal adalah Dewi.
"Cuma satu, Mbak," kata Pak Sabar sambil menyodorkan sebuah buku. Suaranya serak, seperti biasa setelah jaga semalaman. "Tapi kok kelihatannya bukan buku kita yang sekarang."
Dewi menerimanya. Sampulnya kertas tebal yang sudah menguning, dilapisi plastik bening yang ujung-ujungnya mengeriting. Judulnya ditulis dengan huruf yang ia kenal dari rak koleksi lama: Siti Nurbaya. Di punggung buku menempel label nomor panggil yang diketik dengan mesin tik, bukan dicetak printer.
"Ini dari koleksi tahun delapan puluhan, Pak," gumam Dewi. "Sistem labelnya saja sudah beda."
Pak Sabar mengangguk pelan, lalu buru-buru berbalik ke pos jaganya, padahal biasanya ia senang mengobrol sebentar sambil menunggu teh. Dewi tidak terlalu memikirkannya. Ia masuk, menyalakan lampu ruang arsip, dan duduk di meja kayu panjang yang menghadap jendela berteralis.
Di halaman belakang buku itu masih ada saku kertas cokelat, tempat kartu pinjam diselipkan pada zaman ketika perpustakaan belum mengenal kode batang. Dewi menarik kartunya. Kertasnya tipis, bergaris, dengan kolom Tanggal Kembali yang dicap stempel ungu. Hanya ada satu cap di sana: 14 MAR 1983.
Di bawahnya, di kolom yang seharusnya untuk tanda tangan petugas, ada tulisan tangan dengan pena biru yang sudah memudar:
Untuk N., halaman 47.
Dewi membuka halaman 47. Kertasnya rapuh, beraroma debu dan sesuatu yang manis, seperti bunga kering. Ia hampir tidak melihatnya, tetapi di bawah empat huruf, di empat kata yang berbeda, ada garis tipis dari pensil. Ia mengambil buku catatan dan menulis huruf-huruf itu berurutan.
M. A. A. F.
"Maaf," bisiknya.
Ia membaca ulang halaman itu dari atas. Bagian ketika Siti Nurbaya menulis surat kepada Samsulbahri, surat yang tidak akan pernah bisa menyatukan mereka. Dewi menelan ludah. Siapa pun yang menggarisbawahi huruf-huruf itu tahu benar halaman mana yang dipilihnya.
Ia membuka buku induk anggota dari lemari arsip, buku besar bersampul kain merah yang hanya dibuka beberapa kali setahun. Tidak ada nomor anggota di kartu pinjam itu, hanya nomor buku. Dewi mencari nomor buku tersebut di register koleksi tahun 1982. Ketemu. Status di kolom paling kanan ditulis dengan pena merah oleh petugas yang entah siapa namanya: Hilang. Diganti rugi? Belum.
"Empat puluh tiga tahun," katanya sendiri. "Dan sekarang pulang."
Pukul delapan, Teguh datang. Mahasiswa sejarah semester tujuh itu menjadi relawan di bagian arsip sejak awal tahun, membantu memindai koran lama untuk skripsinya. Ia selalu membawa termos kopi dan selalu bertanya terlalu banyak, dua hal yang diam-diam Dewi sukai darinya.
"Mbak Dewi kenapa mukanya kayak habis lihat hantu?"
Dewi menyodorkan buku, kartu, dan catatan berhuruf M-A-A-F. Teguh membacanya sambil berdiri, lalu menarik kursi.
"Ini bukan iseng," katanya setelah beberapa saat. "Orang iseng tidak akan menyimpan buku selama empat puluh tahun dengan kartu pinjam yang masih utuh."
"Bisa saja ditemukan di loteng, lalu dikembalikan oleh cucunya."
"Lalu siapa yang menggarisbawahi huruf-hurufnya? Lihat, Mbak." Teguh menunjuk garis pensil. "Pensilnya tumpul, tekanannya ragu-ragu. Kalau ini ditulis tahun 1983, grafitnya sudah lebih pudar dan ada bekas gesekan halaman di sebelahnya. Ini kelihatan lebih segar."
Dewi memiringkan buku di bawah cahaya jendela. Teguh benar. Halaman 46, yang menempel di halaman 47 selama puluhan tahun, tidak memiliki bekas cetakan grafit sama sekali.
"Jadi garisnya baru dibuat," kata Dewi pelan. "Tapi tulisan di kartu itu jelas lama."
"Dua orang? Atau satu orang yang menyimpan pesan lama lalu menambahkan sesuatu?"
Mereka berdua terdiam. Di luar, suara angkot dan pedagang lumpia mulai mengisi jalan.
Siang harinya, Dewi bertanya kepada Bu Kepala tentang rekaman kamera di pintu masuk. Jawabannya membuatnya kecewa: kamera di sisi kotak pengembalian sudah rusak sejak hujan deras bulan lalu dan belum diperbaiki karena anggaran. Satu-satunya saksi adalah Pak Sabar, yang jaga malam.
Sore itu, sebelum pulang, Dewi mampir ke pos jaga. Pak Sabar sedang mengelap senter.
"Pak, semalam ada yang lewat ke kotak pengembalian? Jam berapa kira-kira?"
Pak Sabar tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti mengelap. "Saya tidak lihat, Mbak. Semalam hujan, saya di dalam terus."
"Tidak ada suara sama sekali?"
"Kotak itu kalau kemasukan buku memang bunyinya pelan." Ia tersenyum, tapi senyumnya cepat hilang. "Kenapa, Mbak? Bukunya rusak?"
"Bukan rusak, Pak. Bukunya justru pulang setelah lama sekali."
Pak Sabar mengangguk, lalu kembali mengelap senter yang sudah bersih sejak tadi.
Dewi berjalan ke halte dengan perasaan yang tidak bisa ia namai. Malam itu ia membaca ulang Siti Nurbaya sampai tertidur, berharap ada garis lain yang terlewat. Tidak ada. Hanya empat huruf dan satu kata yang terasa terlalu berat untuk sebuah buku perpustakaan.
Seminggu berlalu tanpa kejadian apa-apa. Dewi hampir yakin bahwa itu hanya kebetulan aneh, satu buku tersesat yang menemukan jalan pulang.
Lalu Jumat berikutnya, pukul lima pagi, Pak Sabar mengetuk pintu ruang arsip, padahal Dewi belum menyalakan lampu.
"Mbak Dewi," katanya. Ia memegang sebuah buku bersampul kuning pucat. "Ada lagi."
Di sakunya, Dewi bisa melihat ujung kartu pinjam yang sama tipisnya. Dan di kolom tanda tangan petugas, dengan pena biru yang sama pudarnya, tertulis:
Untuk N., halaman 112.