Episode 1 dari 1

Jalan Kaki ke Nyadran

Jalan Kaki ke Nyadran · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Mbah Karto berangkat pukul empat pagi, sebelum azan subuh selesai berkumandang dari masjid kampung. Tas kainnya berisi sapu lidi kecil, sabit, sebotol air, sebungkus bunga kenanga dan mawar, serta dua bungkus nasi yang disiapkan Bu Lastri, menantunya, sambil terus menggerutu sejak semalam.

"Bapak itu tujuh puluh empat tahun, Pak. Empat puluh kilo itu jauh. Naik mobil saja, biar diantar Mas Joko."

"Simbokmu dulu jalan kaki ke pasar Wonosari tiap Senin, gendong tenggok isi ketela. Masa aku ke makamnya naik mobil."

Perdebatan itu sudah terjadi setiap tahun selama lima tahun, sejak Mbah Putri meninggal. Setiap tahun Mbah Karto menang. Tetapi tahun ini, setelah ia sempat jatuh di kamar mandi bulan lalu, anak-anaknya membuat syarat: ia boleh berjalan, asal ada yang menemani.

Tidak ada yang mau. Semua sibuk bekerja. Kecuali Damar.

Damar, cucu pertama, dua puluh tiga tahun, lulus kuliah teknik sipil delapan bulan lalu. Sudah dua puluh satu lamaran ia kirim. Tiga kali dipanggil wawancara, tiga kali tidak ada kabar lagi. Sejak itu ia lebih banyak di kamar, menatap layar ponsel, menyegarkan kotak masuk email setiap sepuluh menit.

"Kamu kan nganggur," kata Bu Lastri kepada anaknya, tanpa maksud jahat, tetapi kalimat itu menempel di dada Damar seperti duri.

Jadi di sinilah Damar, pukul empat pagi, berjalan di samping kakeknya di trotoar Jalan Wonosari yang masih gelap, membawa ransel berisi tikar dan obat-obatan, dengan ponsel di saku yang baterainya penuh.


Mbah Karto berjalan pelan. Sangat pelan. Setiap langkah seperti dipikirkan dulu. Damar, yang terbiasa berjalan cepat di kampus, harus terus menahan diri.

"Mbah, kalau begini kita sampai kapan?"

"Besok sore."

"Besok?" Damar berhenti. "Empat puluh kilo dua hari?"

"Kamu mau cepat ke mana? Kerja belum ada." Mbah Karto tidak menoleh. Kalimatnya datar, bukan mengejek. Tetapi Damar merasa wajahnya panas.

Matahari terbit ketika mereka mulai menanjak di Bukit Patuk. Jalan berkelok di lereng, dan di bawah, Kota Yogyakarta terhampar dalam kabut pagi, atap-atap rumah berkilau, Gunung Merapi berdiri jauh di utara dengan puncak bersih.

Mbah Karto berhenti di sebuah tikungan, duduk di batu di bawah pohon jati, dan membuka botol air.

"Dulu Simbokmu dan aku naik sepeda dari sini. Waktu masih pacaran. Aku yang mengayuh, dia duduk di boncengan. Tanjakan ini, aku tidak kuat. Turun, dorong. Dia ikut turun, ikut dorong." Ia tertawa pelan. "Tiga kali kami lewat sini, tiga kali dorong. Kata dia, Mas Karto ini cintanya kuat, tapi dengkulnya tidak."

Damar tertawa tanpa sengaja. Ia belum pernah mendengar cerita itu.

Ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dengan cepat. Email. Ternyata hanya promosi toko daring. Ia memasukkannya lagi, kecewa.

"Menunggu surat?" tanya Mbah Karto.

"Email, Mbah. Panggilan kerja."

"Dari mana?"

"Kontraktor di Semarang. Wawancara terakhir minggu lalu. Katanya dikabari minggu ini."

Mbah Karto mengangguk pelan, lalu berdiri. "Ayo jalan. Surat tidak datang lebih cepat kalau ditunggui."


Hari pertama terasa sangat panjang. Mereka melewati hutan jati yang daunnya mengering dan rontok, ladang singkong di tanah kapur yang putih, desa-desa kecil dengan rumah limasan dan anak-anak yang berteriak Mbah Kartooo! karena ternyata kakeknya dikenal di sepanjang jalan.

Setiap beberapa kilometer, Mbah Karto berhenti. Di warung, di pos ronda, di masjid. Ia menyapa orang, menanyakan kabar, mendengarkan cerita tentang panen yang gagal, cucu yang merantau, harga gabah. Damar duduk di samping, gelisah, memeriksa ponselnya.

"Mbah ini kenal semua orang?"

"Tidak. Tapi semua orang punya cerita. Kalau mau dengar, tinggal duduk."

Mereka menginap di rumah Pak Wiryo di Gading, kenalan lama Mbah Karto, yang menyambut dengan teh panas dan tikar di ruang tamu. Malam itu Damar tidak bisa tidur. Kakinya pegal, punggungnya sakit, dan kotak masuk emailnya masih kosong.

Ia menyalakan ponsel di bawah selimut. Menyegarkan. Kosong. Menyegarkan lagi. Kosong.

"Le," suara Mbah Karto dalam gelap. "Kalau kamu menanam singkong, kamu cabut setiap hari untuk lihat sudah besar atau belum?"

Damar membeku. Ia kira kakeknya sudah tidur.

"Tidak, Mbah."

"Kenapa?"

"Nanti mati."

"Lha." Hanya itu. Lalu napas Mbah Karto kembali teratur, kali ini sungguhan tertidur.

Damar mematikan ponselnya dan menatap langit-langit sampai matanya terpejam sendiri.


Hari kedua mereka berangkat lebih pagi. Damar memperhatikan sesuatu yang kemarin tidak ia sadari: cara kakeknya berjalan. Pelan, tetapi tidak pernah berhenti tanpa alasan. Setiap tanjakan ia hadapi dengan langkah yang sama kecilnya dengan langkah di jalan datar. Tidak terburu-buru, tidak juga menyerah.

"Mbah tidak capek?"

"Capek. Tapi capeknya dibagi rata. Sedikit-sedikit setiap langkah. Kalau dikumpulkan di satu tanjakan, baru tidak kuat."

Mereka sampai di desa ketika matahari mulai condong. Kompleks makam ada di bukit kecil di pinggir desa, dinaungi pohon kamboja yang bunganya berjatuhan putih kekuningan. Warga sudah ramai, menyapu, memotong rumput, menata bunga. Nyadran tinggal dua hari lagi.

Mbah Karto berjalan lurus ke sebuah nisan sederhana dari batu kapur. Sumiyati binti Karjo. Ia berlutut pelan, meletakkan tangan di atas nisan, dan diam lama sekali.

Damar berdiri di belakangnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, jadi ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu daun-daun kering di sekitar makam. Lalu ia mencabuti rumput liar. Lalu ia mengambil air dari sumur dan menyiram tanahnya. Tangannya bekerja, kepalanya diam.

Mbah Karto menabur bunga, berdoa lirih, lalu duduk di samping nisan. "Sum, ini cucumu. Damar. Sudah sarjana. Tapi belum kerja. Doakan, ya."

Damar menunduk, malu dan terharu sekaligus.

"Dia tidak malas, Sum. Cuma terburu-buru. Seperti aku dulu." Mbah Karto menoleh kepada Damar. "Tahu tidak, Le, Mbah Putrimu dulu menolak lamaranku tiga kali."

"Tiga kali?"

"Tiga kali. Kata bapaknya, aku belum punya apa-apa. Aku tidak marah. Aku kerja di ladang dua tahun, beli sapi satu ekor, datang lagi. Ditolak lagi, karena katanya sapinya kurus." Ia tertawa. "Kali keempat, bapaknya bilang, anak ini tidak bisa diusir. Ya sudah."

Damar tertawa, dan dadanya terasa lebih lapang daripada berbulan-bulan terakhir.

"Ditolak itu bukan akhir, Le. Ditolak itu cuma tikungan. Yang penting kakimu masih jalan."


Mereka menginap di rumah saudara di desa. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Damar tidur nyenyak tanpa memeriksa ponsel.

Esok paginya, saat membantu warga menyiapkan tumpeng untuk kenduri Nyadran, ponselnya bergetar di saku. Ia hampir mengabaikannya. Tangannya penuh tepung ketan.

Ketika akhirnya ia membuka layar, ada satu email baru. Kontraktor di Semarang. Subjeknya hanya dua kata: Undangan Penandatanganan.

Damar membacanya tiga kali. Lalu ia berlari ke halaman tempat kakeknya duduk di bawah pohon nangka, mengupas kelapa bersama bapak-bapak.

"Mbah! Mbah! Diterima!"

Mbah Karto tidak berdiri. Ia hanya mengangguk, tersenyum, dan terus mengupas kelapa. "Lha. Singkongnya sudah besar."

Damar tertawa sampai matanya basah. Lalu ia duduk di samping kakeknya, mengambil kelapa satu, dan ikut mengupas, pelan, satu demi satu, seperti cara kakeknya melangkah.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

CV ATS & Lolos Wawancara Kerja

Banyak lamaran gagal bukan karena pelamarnya tidak mampu, melainkan karena CV-nya tidak terbaca sistem rekrutmen, pencapaiannya ditulis sebagai daftar tugas, atau jawaban wawancara...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu