Lima Puluh Ribu yang Pulang Hari Senin
Kaleng biskuit itu dulunya berisi kue lebaran, bergambar bunga mawar merah di tutupnya. Sekarang isinya uang kas kelas XI IPS 2, dan gembok angka kecil berwarna perak tergantung di lubang yang dibor Pak Hendra, guru prakarya, dengan bor tangan.
Salsa memegang kaleng itu seperti orang memegang bayi.
Ia menjadi bendahara bukan karena pandai berhitung, melainkan karena tidak ada orang lain yang mau. Pada rapat pemilihan pengurus kelas, ketika nama bendahara diajukan, tiga puluh dua anak mendadak sibuk memandangi langit-langit. Hanya Salsa yang terlalu lama menatap papan tulis, dan itu dianggap sebagai tanda setuju.
Setiap Senin, ia menagih iuran lima ribu rupiah per orang. Setiap Kamis sore, ia menghitung isinya di meja paling depan, mencatatnya di buku kas bersampul plastik bening, lalu mengunci kaleng di lemari kelas. Kode gemboknya 0811, tanggal kelas mereka pertama kali dibentuk, delapan November tahun lalu. Selain Salsa, hanya tiga orang yang tahu: Arief si ketua kelas, Intan si sekretaris, dan wali kelas mereka, Bu Rosmala.
Kamis itu, menurut buku kasnya, isi kaleng adalah empat ratus delapan puluh ribu rupiah.
Jumat pagi, Bu Rosmala meminta uang lima puluh ribu untuk membeli spidol dan kertas karton. Salsa membuka kaleng di depan meja guru, menghitung, lalu menghitung lagi.
"Empat ratus tiga puluh, Bu," katanya. Suaranya kecil.
"Kurang lima puluh?"
"Kurang lima puluh."
Kelas mendadak sunyi. Tiga puluh dua pasang mata melirik ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari siapa yang paling mencurigakan. Arief berdiri, menepuk meja, dan berkata dengan nada ketua yang dibuat-buat, "Tenang, tenang. Mungkin salah hitung."
"Aku tidak salah hitung," kata Salsa. "Aku hitung dua kali kemarin. Ada tanda tangan Intan di buku kas."
Intan mengangguk dari bangku belakang. Wajahnya pucat.
Bu Rosmala menghela napas panjang, lalu membeli spidol dengan uangnya sendiri. "Kita bicarakan Senin," katanya. "Jangan ada yang menuduh siapa-siapa dulu. Ingat, menuduh tanpa bukti itu lebih berat dosanya daripada kehilangan lima puluh ribu."
Akhir pekan itu Salsa tidak bisa menikmati apa pun. Ia ikut ibunya ke Pasar 16 Ilir membeli ikan, menyeberangi Jembatan Ampera dengan angkot, dan sepanjang jalan ia memikirkan kode 0811. Ia menuliskan nama tiga orang yang tahu kode itu di bagian belakang buku tulisnya, lalu mencoretnya, lalu menuliskannya lagi.
Arief, yang minggu lalu pamer sepatu baru.
Intan, yang ikut menandatangani hitungan Kamis.
Bu Rosmala, yang tidak mungkin.
Atau seseorang yang pernah melihatnya memutar angka-angka itu.
Senin pagi, Salsa datang paling awal, bahkan sebelum Pak Udin, penjaga sekolah, selesai menyapu halaman. Ia membuka lemari kelas, memutar gembok, dan mengangkat tutup kaleng bergambar mawar itu.
Lalu ia membeku.
Di atas tumpukan uang kertas yang rapi, ada segenggam uang lain. Lecek. Pecahan dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, beberapa koin lima ratus dan seribu. Salsa menghitungnya dengan tangan gemetar.
Lima puluh ribu rupiah. Tepat.
Ia mendekatkan uang itu ke hidungnya, lalu menjauhkannya cepat-cepat. Baunya asam, pedas, dan bawang putih. Bau yang dikenal setiap anak Palembang sejak bisa berjalan.
"Cuko," bisiknya.
Di dasar kaleng, terselip di antara uang kertas, ada sesobek kertas kecil seukuran prangko. Tulisannya pensil, huruf kapital kecil-kecil: P. 50.
Salsa memandangi kertas itu lama. Ia ingat pernah melihat kertas serupa beberapa minggu lalu, terselip di bawah tumpukan uang, dan mengira itu catatan pengeluaran yang ia tulis sendiri dan lupa. P untuk pengeluaran. Ia membuangnya waktu itu.
Sekarang ia tidak yakin lagi.
Ketika kelas mulai ramai, Salsa mengumumkan bahwa uang kas sudah lengkap. Arief bertepuk tangan dan berkata, "Kan, sudah kubilang salah hitung." Beberapa anak tertawa lega. Intan menatap Salsa dengan mata yang bertanya-tanya, karena Intan tahu Salsa tidak salah hitung.
Bu Rosmala hanya berkata, "Alhamdulillah," lalu memulai pelajaran sejarah.
Salsa tidak mendengarkan apa pun tentang Kerajaan Sriwijaya hari itu. Ia memikirkan uang lecek berbau cuko dan sobekan kertas bertulisan P. 50. Seseorang mengambil uang itu, lalu mengembalikannya. Seseorang yang tahu kode gembok. Seseorang yang, entah bagaimana, berurusan dengan pempek.
Di Palembang, pikirnya pahit, itu berarti hampir semua orang.
Sepulang sekolah, ia mampir ke warung pempek dekat sekolah bersama Intan. Mereka memesan kapal selam dan lenjer, lalu duduk di bangku plastik sambil menyendok cuko dari mangkuk kecil. Salsa menatap mangkuk itu seperti menatap barang bukti.
"Kau curiga sama penjual pempek se-Palembang?" tanya Intan setengah bercanda.
"Aku curiga sama orang yang pegang uang sambil pegang cuko," jawab Salsa. "Itu bukan penjual saja. Itu juga yang bantu jualan."
Kamis berikutnya, Salsa menghitung kas di depan Intan dan Arief sekaligus. Empat ratus delapan puluh ribu, ditambah iuran minggu ini, lima ratus empat puluh ribu. Ketiganya menandatangani buku kas. Salsa sendiri yang mengunci kaleng dan memutar angka gembok ke posisi acak.
Jumat pagi, ia membuka lemari sebelum bel berbunyi.
Kaleng masih di tempatnya. Gembok masih terkunci. Ia memutar 0811 dan membuka tutupnya.
Empat ratus sembilan puluh ribu rupiah.
Kurang lima puluh ribu lagi. Dan di dasar kaleng, seperti ejekan kecil, terselip sobekan kertas baru dengan huruf kapital yang sama:
P. 50.