📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Dek Tiga dan Kerupuk Mak Ijah

Kardus Terakhir dari Batam · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Tempat tidur di dek ekonomi berupa deretan matras biru bernomor, berjajar rapat seperti bangku sekolah yang dibaringkan. Nomor Yusuf terletak di dekat tangga, tempat orang lalu-lalang membawa termos air panas dan anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Ia meletakkan kardus di kepala matras, menjadikannya bantal sekaligus pagar.

Di sebelahnya, seorang perempuan tua sudah menata wilayahnya dengan cekatan: tikar pandan di atas matras, tiga karung plastik besar yang diikat rapi, dan sebuah kaleng bekas biskuit berisi entah apa. Kerudungnya hijau tua, tangannya penuh garis seperti peta.

"Turun di Priok, Nak?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Iya, Bu. Terus lanjut ke Lombok."

"Jauh." Ia mengangguk, seolah jarak adalah sesuatu yang patut dihormati. "Panggil Mak Ijah saja. Semua orang kapal panggil begitu."

Ternyata memang semua orang memanggilnya begitu. Awak kapal yang lewat menyapanya, petugas kantin menyisihkan teh manis untuknya, dan seorang anak buah kapal dengan seragam belel menitipkan salam untuk cucunya. Mak Ijah sudah sebelas tahun bolak-balik di jalur ini, sebulan sekali, membawa kerupuk kulit dan ikan asin dari Batam ke Jakarta dan pulang membawa kain dan pakaian anak dari Tanah Abang.

"Sebelas tahun, Mak? Nggak capek?"

"Capek. Tapi dulu lebih capek jadi janda yang nggak punya apa-apa." Mak Ijah membuka kaleng biskuitnya. Isinya bukan biskuit, melainkan buku tulis tebal bersampul plastik dan sebuah kalkulator dengan angka-angka yang sudah pudar. "Suami Mak meninggal waktu anak bungsu masih SD. Pabrik tempat Mak kerja tutup tahun itu juga. Mak pikir dunia sudah selesai."

Yusuf diam. Kata pabrik tutup terasa seperti sesuatu yang disentuhkan ke lukanya sendiri.

"Terus, Mak?"

"Terus Mak lapar." Ia tertawa, memperlihatkan gigi yang tinggal separuh. "Orang lapar nggak sempat lama-lama sedih, Nak. Mak lihat orang Batam suka kerupuk kulit Jakarta, orang Jakarta suka ikan asin Batam. Mak bawa satu karung. Laku. Dua karung. Laku. Sekarang tiga, ditambah titipan orang."

Ia membuka buku tulisnya. Setiap halaman berisi tanggal, nama barang, harga beli, harga jual, ongkos angkut, dan satu kolom kecil berjudul "sisa untuk Mak". Angka-angkanya ditulis dengan pensil, rapi, dihapus dan ditulis ulang di beberapa tempat.

"Mak sekolah sampai mana?"

"Kelas empat." Mak Ijah menepuk buku itu. "Tapi Mak tahu satu hal: kalau nggak dicatat, uang itu kayak air di tangan. Kerasa basah, tapi nggak ada isinya."


Malam pertama di laut, Yusuf tidak bisa tidur. Mesin kapal berdengung di bawah lantai seperti perut raksasa yang lapar. Di dek atas, angin membawa bau garam dan solar. Ia naik ke sana, berpegangan pada pagar besi yang basah, dan melihat lampu-lampu kecil di kejauhan yang mungkin perahu nelayan, mungkin pulau, mungkin bukan apa-apa.

Ia memikirkan desa. Sembalun di musim kemarau, kebun bawang putih yang berbaris rapi, kabut yang turun dari Rinjani pukul empat sore. Ia memikirkan Amaq yang setiap pagi naik ke hutan di lereng dengan parang di pinggang, entah mencari apa, dan pulang menjelang zuhur dengan baju penuh getah. Waktu kecil, Yusuf pernah ikut sekali dan digigit lebah kecil di kelopak mata. Ia menangis sepanjang jalan turun, dan Amaq hanya bilang, "Lebah itu jaga rumahnya. Kamu yang masuk tanpa permisi."

Ia tidak pernah ikut lagi.

Sekarang, di tengah laut dan jauh dari semua itu, ia baru sadar bahwa ia tidak pernah tahu apa yang dicari ayahnya di hutan setiap pagi selama puluhan tahun. Dua belas tahun ia bisa menyebutkan kode setiap komponen di jalur produksi B, tetapi ia tidak bisa menyebutkan satu pun nama pohon di lereng tempat ia lahir. Pikiran itu membuatnya malu dengan cara yang berbeda dari malu karena PHK. Malu yang ini lebih pelan, lebih dalam, dan anehnya sedikit melegakan, seperti mengakui utang lama yang selama ini pura-pura dilupakan.

"Belum tidur?"

Mak Ijah berdiri di sebelahnya dengan termos kecil dan dua gelas plastik.

"Teh, Mak?"

"Jahe. Biar nggak mabuk laut." Ia menuang dan menyodorkan satu. "Kamu dari tadi mukanya kayak orang mau sidang."

Yusuf tertawa pendek. Bang Udin juga bilang begitu. Mungkin mukanya memang sudah begitu.

"Saya kena PHK, Mak. Dua belas tahun. Pulang nggak bawa apa-apa."

"Nggak bawa apa-apa?" Mak Ijah menunjuk ke bawah, ke arah dek tempat kardus Yusuf tergeletak. "Itu apa?"

"Oleh-oleh. Kue, kopi saset."

"Bukan itu maksud Mak." Ia meniup tehnya. "Dua belas tahun kamu kerja di pabrik. Kamu bisa apa?"

Yusuf berpikir. "Periksa barang, Mak. Quality control. Lihat cacat di papan sirkuit, catat, laporkan, cari penyebabnya."

"Nah. Kamu bisa lihat yang orang lain nggak lihat. Kamu bisa catat. Kamu bisa cari kenapa sesuatu rusak." Mak Ijah mengangguk puas, seperti guru yang muridnya baru menjawab soal mudah. "Itu bawaan. Lebih berat dari kardus."

Yusuf memandangi gelas plastiknya. Ia tidak pernah memikirkan dua belas tahun itu sebagai sesuatu yang bisa dibawa pulang. Selama ini ia hanya memikirkannya sebagai sesuatu yang diambil darinya.


Kapal merapat di Tanjung Priok menjelang subuh hari ketiga. Dermaga riuh oleh buruh angkut bersarung tangan, pedagang asongan, dan sopir taksi gelap yang menawarkan harga dengan suara serak. Mak Ijah mengatur tiga karungnya dengan dua buruh langganan yang sudah menunggunya, menyebut harga tanpa tawar-menawar.

Sebelum berpisah, ia merobek selembar kertas dari buku tulisnya, menulis sesuatu dengan pensil, lalu melipatnya kecil.

"Buat kamu. Bacanya nanti saja, kalau sudah sampai."

"Apa ini, Mak?"

"Rahasia dagang." Ia mengedip. "Jangan kasih tahu orang kapal."

Yusuf menyimpan lipatan kertas itu di saku kemeja, di sebelah tiket bus yang belum ia beli. Mak Ijah sudah menghilang di antara kerumunan ketika Yusuf sadar ia belum mengucapkan terima kasih.

Ia mengangkat kardus ke bahu. Rendang Bang Udin masih separuh. Kopi saset masih utuh. Jakarta menyambutnya dengan klakson, panas yang lengket, dan langit berwarna seperti air cucian. Ia membuka ponsel, mencari rute bus menuju timur, dan menemukan satu nama terminal yang terdengar asing sekaligus menjanjikan: Pulo Gebang.

Di saku kemejanya, lipatan kertas Mak Ijah terasa hangat, seolah masih menyimpan sisa jahe dari termos.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Rencana B Saat PHK

Hari-hari pertama setelah PHK sering terasa kabur, padahal di situlah keputusan penting diambil: surat apa yang ditandatangani, hak apa yang ditagih, dan ke mana uang pesangon diba...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu