📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 4

Nama yang Tidak Boleh Ditanyakan

Kedai Kopi di Ujung Gang · 15 Okt 2026 · 3 menit baca

"Rendra?" Bu Ratmi berhenti menyapu halaman. Ia menatap Laras seperti baru saja mendengar nama yang sudah lama dikubur. "Neng tahu dari mana?"

Laras menunjukkan foto itu.

Bu Ratmi menyandarkan sapunya ke dinding, lalu duduk di bangku plastik di depan rumahnya. Ia menepuk bangku di sebelahnya, menyuruh Laras duduk.

"Rendra itu anak Pak Hadi satu-satunya. Dulu kerja di kedai kakekmu, dari lulus SMA. Pinter bikin kopi, pinter ngobrol. Pelanggan banyak yang datang karena dia." Bu Ratmi tersenyum kecil. "Kakekmu sayang sekali sama dia. Sudah seperti cucu sendiri."

"Terus kenapa pergi, Bu?"

Senyum Bu Ratmi hilang.

"Ribut sama bapaknya. Rendra mau buka kedai sendiri di Jakarta, pinjam uang ke sana-sini. Pak Hadi tidak setuju, takut anaknya terlilit utang. Mereka bertengkar hebat di kedai kakekmu, Neng. Di depan pelanggan. Rendra bilang tidak akan pulang lagi." Bu Ratmi menghela napas. "Dan memang tidak pernah pulang."

"Sepuluh tahun?"

"Sepuluh tahun." Bu Ratmi menatap ujung gang. "Pak Hadi itu tiap Kamis datang ke kedai. Duduk di meja yang dulu sering ditempati Rendra kalau istirahat. Kakekmu tidak pernah tanya, dan Pak Hadi tidak pernah cerita. Tapi semua orang di gang ini tahu dia sedang menunggu."


Malam itu, Laras tidak bisa tidur.

Ia membuka buku catatan kakeknya lagi, membaca halaman demi halaman dengan senter ponsel. Kali ini ia mencari sesuatu yang spesifik, dan menemukannya di halaman yang hampir menempel karena tumpahan kopi lama:

Rendra. Kopi susu gula aren, banyak susunya. Dia pura-pura suka kopi pahit di depan bapaknya, padahal tidak.

Di bawahnya, tulisan yang lebih baru, tintanya masih hitam pekat:

Rendra telepon. Kedainya di Jakarta tutup. Dia malu pulang. Aku bilang pintu kedai selalu terbuka, tapi dia tidak mau bapaknya tahu dia gagal. Nomornya kucatat di belakang kalender, jangan sampai Hadi lihat sebelum Rendra siap.

Laras langsung bangkit, menyalakan lampu, dan menurunkan kalender toko bangunan dari dinding.

Di balik halaman bulan lalu, ditulis dengan pensil: sederet angka, dan satu kata.

Rendra.


Pesan yang ia tulis tiga kali dihapus, tiga kali ditulis ulang.

Akhirnya ia hanya mengirim satu foto: kedai yang sudah ia sapu bersih, kursi-kursi yang ia lap sampai mengilap, dan sendok takar kecil yang tergantung di dinding. Di bawahnya, satu kalimat:

Saya Laras, cucu Pak Darto. Kakek sudah tidak ada, tapi kedainya masih buka. Kamis jam tujuh, seperti biasa.

Pesan itu terkirim. Satu centang. Lalu dua centang.

Tidak ada balasan.


Hari-hari berikutnya Laras sibuk. Ia membersihkan mesin giling dan menemukan bahwa mesin itu hanya butuh sekring baru. Ia membeli biji kopi segar dari pemasok yang namanya tercatat di halaman belakang buku kakeknya. Ia belajar menyeduh tubruk sampai Bu Ratmi bilang rasanya mirip punya Pak Darto, tapi masih kalah dikit.

Pelanggan lama mulai datang satu per satu. Bu Wulan dengan kopi susu gula setengahnya. Dika yang kini sudah SMA, yang langsung duduk di bangku jendela dan pura-pura mengerjakan PR.

Dan Laras, tanpa benar-benar memutuskannya, berhenti menghitung kapan ia akan menyerahkan kunci kedai.

Kamis pagi berikutnya, pukul tujuh kurang lima, Pak Hadi sudah duduk di meja jendela dengan korannya. Laras menyajikan kopi tubruk tanpa gula, air yang sudah ditunggu sampai hitungan ketiga puluh.

Pak Hadi menyesap, mengangguk sekali, dan Laras tahu itu pujian.

Lalu bel kecil di atas pintu berdenting.

Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Umurnya sekitar tiga puluhan, rambutnya dipotong pendek, dan ia memegang tali ranselnya terlalu erat. Matanya menyapu seluruh kedai, berhenti di sendok takar di dinding, lalu berhenti lagi di meja dekat jendela.

Koran di tangan Pak Hadi perlahan turun.

Tidak ada yang bicara. Hanya terdengar suara air yang mendidih di teko, dan Laras, tanpa disuruh siapa pun, mulai menghitung sampai tiga puluh.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Kedai Kopi di Ujung Gang”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

★ 5,0 dari 1 pembaca
Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu