Empat Orang di Ruang Kosong
Pengumuman itu ditempel miring di papan kaca dekat kantin, di antara jadwal remedial dan brosur bimbel yang sudah pudar.
LOMBA FOTO PELAJAR TINGKAT PROVINSI. TEMA: RUANG YANG KITA RAWAT. KATEGORI KAMERA DAN KATEGORI PONSEL. SETIAP SEKOLAH MENGIRIM SATU TIM BERISI EMPAT ORANG.
Nara membacanya sampai dua kali, lalu memotretnya. Kebiasaan lama. Kalau sesuatu penting, ia ambil fotonya dulu, baru memikirkannya belakangan.
"Kategori ponsel," gumamnya. Ia melirik ponselnya sendiri, model tiga tahun lalu dengan casing bergambar kucing yang catnya sudah mengelupas di sudut. Di galerinya ada ribuan foto: atap angkot yang basah, bayangan pagar sekolah jam sepuluh pagi, kakek penjual roti gambang di depan gang rumahnya. Tidak ada yang pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Di ruang klub Optika, lantai dua gedung lama, ada enam kamera mirrorless yang dipajang di lemari kaca seperti piala. Nara mengetuk pintu yang terbuka setengah.
Reza, ketua Optika, sedang membersihkan lensa dengan kain kecil. Ia anak kelas XI juga, tapi gayanya seperti fotografer yang baru pulang dari liputan perang.
"Mau daftar?" tanyanya tanpa menoleh.
"Mau tanya soal lomba provinsi. Kategori ponsel. Optika ikut?"
Reza tertawa kecil. "Optika ikut kategori kamera. Ponsel itu buat yang belum serius."
"Kalau begitu, boleh aku yang ikut kategori ponsel?"
Kali ini Reza menoleh. "Syaratnya satu sekolah satu tim. Empat orang. Didampingi guru pembina." Ia kembali ke lensanya. "Semoga berhasil mencari tiga orang yang mau memotret pakai ponsel retak."
Nara tidak tahu kenapa kalimat terakhir itu menempel di kepalanya sepanjang jam pelajaran Kimia.
Orang pertama ia temukan secara tidak sengaja.
Bayu duduk di tangga belakang, makan gorengan sambil memotret semut yang berbaris di dinding. Layar ponselnya retak seperti jaring laba-laba, retakan paling besar membelah tepat di tengah.
"Kamu motret semut?"
"Bukan semutnya," kata Bayu santai. "Bayangannya. Jam segini matahari masuk dari celah atap, jadi bayangan semutnya panjang kayak jerapah." Ia menyodorkan ponsel. Di balik retakan, Nara melihatnya: barisan bayangan tipis memanjang di dinding putih, lucu dan sedikit ganjil.
"Mau ikut lomba foto?"
"Hadiahnya apa?"
"Uang pembinaan, piagam, dan foto kita dipamerkan di Bandung."
Bayu berpikir sebentar, terlalu lama untuk orang yang biasanya bercanda. "Latihannya jam berapa? Aku nggak bisa lewat jam empat."
"Kenapa?"
"Ada urusan." Ia tersenyum lebar, cara orang menutup pintu dengan sopan. "Tapi kalau sebelum jam empat, aku ikut."
Orang kedua datang sendiri.
Tiara, sekretaris kelas yang catatannya selalu rapi dengan tiga warna pulpen, menghampiri Nara di perpustakaan. "Aku dengar kamu cari anggota untuk lomba foto."
"Kabar cepat juga."
"Bayu cerita ke separuh kelas." Tiara menarik kursi, duduk tegak. "Aku pernah daftar Optika. Ditolak. Katanya portofolioku terlalu kaku." Ia menyodorkan ponselnya. Fotonya memang rapi: deretan buku di rak, tegak lurus, simetris, warnanya bersih. "Aku mau buktikan kaku itu bukan kekurangan."
Nara melihat satu foto yang berbeda: jendela kelas dengan tetes hujan, di baliknya lapangan kabur. "Ini bagus."
"Itu tidak sengaja," kata Tiara cepat, pipinya sedikit merah.
"Justru itu."
Orang ketiga paling sulit.
Gilang duduk di bangku paling belakang, hampir tidak pernah bicara kecuali dipanggil guru. Tapi Nara pernah melihat layar ponselnya saat upacara: ia sedang mengedit foto langit, menggeser satu batang pengaturan sedikit demi sedikit seperti orang menyetel radio.
"Gilang, kamu suka edit foto, kan?"
Gilang menatapnya, lalu mengangguk.
"Kami butuh orang keempat. Lomba foto. Kategori ponsel."
Gilang membuka galeri dan memperlihatkan satu foto: genangan air di parkiran sekolah yang memantulkan menara masjid, terbalik, jernih seperti cermin. Di tepinya ada daun kering yang membuat pantulan itu terasa nyata.
"Ikut?" tanya Nara.
"Ikut," jawab Gilang. Satu kata. Nara menganggapnya sebagai kontrak.
Malamnya Nara membuat grup chat. Ia mengetik nama grup, menghapusnya, mengetik lagi. "Klub Foto Ponsel" terdengar seperti nama brosur. "Tim Lomba" terdengar seperti tugas kelompok yang dikerjakan satu orang.
Bayu yang lebih dulu mengusulkan. "Klub Lensa Retak. Biar jujur dari awal."
Tiara membalas dengan tiga titik yang lama sekali muncul dan hilang, lalu akhirnya: "Itu tidak profesional."
"Justru itu," tulis Bayu. "Orang ingat yang aneh."
Gilang mengirim satu stiker jempol. Itu pertama kalinya Nara melihat Gilang memakai stiker, dan entah kenapa ia merasa terharu.
Nama grup berganti menjadi Klub Lensa Retak. Nara menatap layar lama sekali. Empat orang yang seminggu lalu hampir tidak pernah saling bicara, kini berbagi satu ruang kecil berwarna hijau di ponselnya. Ia membuka galeri, memilih foto bayangan pagar sekolah jam sepuluh pagi, lalu mengirimnya ke grup tanpa keterangan apa pun.
Tiga balasan masuk hampir bersamaan.
"Garisnya bagus."
"Itu pagar dekat parkiran motor, kan?"
"Bayangannya kayak tangga ke langit."
Untuk pertama kalinya, seseorang melihat fotonya. Nara mematikan lampu kamar dengan perasaan aneh, seperti baru saja membuka jendela yang selama ini ia kira tembok.
Masalah terakhir adalah guru pembina. Bu Ratna, guru Seni Budaya yang suka membawa termos teh ke mana-mana, mendengarkan mereka berempat di ruang guru.
"Kalian sadar Optika juga daftar?"
"Optika ikut kategori kamera, Bu," kata Nara. "Kami kategori ponsel."
Bu Ratna meletakkan termosnya. "Masalahnya bukan kategori. Panitia minta satu sekolah satu tim. Kalau dua kelompok mau ikut, sekolah harus memilih satu."
Ruang guru mendadak terasa sempit. Bayu berhenti mengunyah permen. Tiara memegang pulpen tiga warnanya erat-erat.
"Jadi bagaimana caranya memilih, Bu?"
"Seleksi internal. Senin depan. Tema bebas, satu foto per anggota, juri tiga guru." Bu Ratna menatap mereka satu per satu. "Dan Reza sudah bilang ke kepala sekolah bahwa Optika siap. Kamera mereka sudah lengkap, mereka punya pengalaman juara kabupaten."
Di lorong, Reza melintas dengan tas kamera di bahu. Ia melambai pelan, terlalu ramah untuk orang yang baru saja mendengar dirinya ditantang.
"Senin depan," katanya. "Jangan lupa bersihkan layarnya."
Bayu memandang ponselnya yang retak, lalu memandang Nara.
"Kita punya waktu tujuh hari," kata Nara, lebih yakin daripada yang ia rasakan, "untuk belajar memotret seperti orang yang sudah belajar bertahun-tahun."