Layang-Layang Pembawa Surat
Ical berumur sembilan tahun dan sudah hafal jadwal kapal ayahnya lebih baik daripada jadwal pelajaran sekolah.
Ayahnya bekerja sebagai juru mesin di kapal kargo yang membawa semen dan beras dari Makassar ke pelabuhan-pelabuhan di timur: Ambon, Ternate, Sorong, Merauke, lalu kembali lagi. Satu putaran butuh empat bulan. Ayahnya pulang dua kali setahun, masing-masing dua minggu, dan selama dua minggu itu rumah mereka di Paotere ramai dengan suara tawa dan bau ikan bakar.
Sisanya, rumah itu diisi Ical, ibunya, dan Nenek Daeng Ngai.
Ayahnya sering menelepon kalau kapal sedang dekat pelabuhan. Tapi di tengah laut tidak ada sinyal, dan kadang dua minggu lewat tanpa kabar apa pun. Pada minggu-minggu seperti itu, Ical suka duduk di dermaga, menatap kapal-kapal pinisi yang bersandar, dan bertanya-tanya ayahnya sedang apa.
"Nek," tanyanya suatu sore, "bagaimana cara mengirim surat ke kapal di tengah laut?"
Nenek Daeng Ngai sedang menganyam tikar pandan di beranda. Ia berumur delapan puluh tahun dan sudah melihat lebih banyak musim angin daripada siapa pun di Paotere.
"Pakai layang-layang," katanya tanpa berhenti menganyam.
Ical tertawa. "Nenek bercanda."
"Nenek tidak bercanda." Nenek menunjuk ke langit, ke arah laut. "Waktu Nenek muda, kakekmu juga pelaut. Kalau musim angin timur datang, angin yang paling kencang, yang bertiup dari daratan ke laut, Nenek menulis surat di ekor layang-layang dan menerbangkannya dari pantai. Lalu Nenek memotong benangnya."
"Lalu?"
"Lalu angin timur membawanya ke kapal kakekmu, di mana pun kapal itu berada."
"Mana mungkin."
Nenek akhirnya berhenti menganyam dan menatap Ical dengan mata yang sudah keruh tapi masih tajam.
"Angin timur itu angin yang paling setia, Cal," katanya. "Dia selalu tahu ke mana orang-orang pergi. Tapi dia cuma mau membawa surat yang ditulis dengan sungguh-sungguh. Surat yang ditulis asal-asalan, dia jatuhkan ke laut."
Ical tidak percaya. Tapi minggu itu sudah tiga belas hari tanpa kabar dari ayahnya, dan musim angin timur sedang bertiup kencang di atas Selat Makassar.
Ia membuat layang-layang sendiri dari bambu yang diraut ibunya dan kertas minyak biru yang ia beli di warung dengan uang jajan dua hari. Layang-layangnya miring sedikit, karena Ical belum pandai mengikat kerangka. Ekornya ia buat panjang, dari kertas HVS yang disambung-sambung.
Lalu ia duduk di lantai kamarnya dengan pensil dan memikirkan apa yang harus ditulis.
Surat pertamanya hanya: Ayah, Ical kangen. Cepat pulang. Ia memandanginya lama, lalu teringat kata Nenek tentang surat yang ditulis asal-asalan. Ia merobeknya.
Surat keduanya lebih panjang. Ia menulis tentang nilai ulangan matematikanya yang dapat delapan puluh lima, tentang kucing tetangga yang melahirkan empat anak, tentang ibunya yang sekarang berjualan kue di depan sekolah. Ia menulis tentang Nenek yang batuk-batuk tapi tidak mau ke puskesmas.
Lalu, di bagian akhir, setelah lama ragu, ia menulis sesuatu yang belum pernah ia katakan kepada siapa pun:
Ayah, kadang Ical marah karena Ayah tidak ada waktu pentas tari di sekolah. Semua anak didampingi bapaknya. Ical bilang ke teman-teman, Ayah sedang membawa beras untuk orang-orang di Papua, jadi Ical tidak boleh sedih. Tapi Ical tetap sedih. Maaf ya, Yah.
Ia menyalin semuanya dengan huruf kecil-kecil di ekor layang-layang yang panjang.
Sore itu angin timur bertiup sangat kencang. Ical berlari di pantai dekat Paotere sampai napasnya habis, dan layang-layang birunya naik, naik, naik, sampai menjadi titik kecil di atas laut. Ekornya yang berisi surat melambai-lambai seperti tangan.
Ical memegang benangnya erat-erat. Lalu, dengan gunting kecil yang dipinjamkan Nenek, ia memotongnya.
Layang-layang itu terbang menjauh, terus ke barat daya, sampai hilang di balik cahaya matahari terbenam.
Ical pulang dengan perasaan aneh. Separuh dirinya merasa bodoh. Separuh lagi merasa lebih ringan daripada berminggu-minggu sebelumnya.
Sembilan hari kemudian, ponsel ibunya berdering pada pukul sembilan malam. Ayahnya menelepon dari Pelabuhan Sorong.
Ical menyambar ponsel itu sebelum ibunya sempat bicara.
"Cal," kata ayahnya. Suaranya aneh, seperti orang yang baru menangis. "Kau yang menerbangkan layang-layang biru?"
Ical terdiam. "Ayah dapat?"
"Seminggu lalu, tengah laut di dekat Kepulauan Banda. Ayah sedang di dek, istirahat dari kamar mesin. Tiba-tiba layang-layang biru jatuh tepat di depan kaki Ayah. Kertasnya basah sedikit, tapi tulisannya masih bisa dibaca." Ayahnya diam sebentar. "Semua kru kapal tidak percaya. Kapten sampai memeriksa peta, menghitung angin. Katanya mustahil."
Ical tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap Nenek, yang duduk di kursi rotan di sudut ruangan, menganyam tikar, tersenyum tanpa menoleh.
"Cal," kata ayahnya lagi, lebih pelan. "Maaf Ayah tidak ada di pentas tarimu."
"Tidak apa-apa, Yah."
"Apa-apa," kata ayahnya. "Ayah juga sedih. Ayah cuma tidak pernah bilang."
Mereka bicara lama malam itu. Lebih lama daripada telepon-telepon sebelumnya, yang biasanya hanya berisi pertanyaan sudah makan atau belum.
Tiga bulan kemudian, kapal ayahnya bersandar di Paotere pada suatu pagi yang cerah. Ical berlari di sepanjang dermaga, menerobos kerumunan buruh pelabuhan, dan melompat ke pelukan ayahnya yang masih berbau oli dan garam.
Di tangan kiri ayahnya ada sesuatu yang terbungkus plastik bening, dijaga baik-baik seperti dokumen penting.
Layang-layang biru. Kerangkanya patah sedikit, kertasnya kusut, tapi ekornya masih utuh. Dan di ekor itu, di bawah surat Ical yang ditulis kecil-kecil, ada tulisan baru dengan huruf besar-besar yang canggung, tulisan orang yang lebih terbiasa memegang kunci pas daripada pensil:
Ical, Ayah juga kangen. Ayah selalu pulang.
Sejak hari itu, setiap musim angin timur, Ical menerbangkan satu layang-layang dari pantai Paotere. Kadang ayahnya mendapatkannya, kadang tidak. Ical tidak pernah tahu pasti.
Tapi Nenek benar. Angin timur adalah angin yang paling setia. Dan surat yang ditulis dengan sungguh-sungguh, entah bagaimana, selalu sampai.