Ekstensi 909
Wisma Pratama dibangun tahun 1984, dan semua orang yang bekerja di sana bisa merasakannya. Lift-nya berderit seperti lutut orang tua, karpet lorongnya berbau debu yang tidak bisa hilang meski dicuci, dan pendingin ruangannya hanya punya dua pilihan: mati atau membekukan.
Dewi sudah empat tahun di bagian akuntansi lantai enam. Ia hafal semua bunyi gedung itu. Bunyi pipa air yang mengetuk-ngetuk pukul sembilan malam. Bunyi genset yang diuji setiap Selasa. Bunyi langkah Pak Karim, satpam malam, yang selalu menyeret sandal kirinya sedikit.
Malam itu tanggal tiga puluh satu, dan seperti setiap akhir bulan, ia lembur untuk tutup buku.
Rekan-rekannya pulang satu per satu sejak pukul tujuh. Yang terakhir, Mbak Tia dari pajak, berpamitan pukul sembilan sambil menyelipkan sebungkus roti sobek di meja Dewi. "Jangan lewat jam sebelas, ya. Gedung ini nggak enak kalau sudah malam."
Dewi tertawa. "Gedung ini nggak enak dari siang, Mbak."
Pukul sepuluh, gedung mulai mengeluarkan bunyi-bunyinya sendiri. Pipa di balik dinding mengetuk tiga kali, berhenti, lalu mengetuk lagi. Lampu neon di atas meja fotokopi berdengung dan berkedip, seperti berusaha mengingat sesuatu. Dewi memasang earphone, memutar daftar lagu yang biasa menemaninya mengerjakan jurnal, dan menyeduh kopi sachet ketiganya malam itu. Di kaca jendela, lampu-lampu Jalan Gajah Mada tampak seperti manik-manik yang dijatuhkan di atas aspal basah.
Ia sempat mengirim pesan ke ibunya: Lembur, Bu. Jangan ditunggu. Ibunya membalas dengan stiker kucing tidur dan satu kalimat: Jangan sampai larut, gedungmu itu tua.
Pukul sebelas lewat, ia masih menatap layar. Rekonsiliasi bank selisih empat juta tiga ratus ribu, dan ia tidak bisa pulang sebelum menemukan di mana angka itu bersembunyi. Ia menyusuri baris demi baris spreadsheet, memakai rumus yang sudah ia hafal di luar kepala, mencocokkan mutasi rekening dengan jurnal.
Pukul 23.17, telepon di mejanya berdering.
Bukan ponsel. Telepon meja, pesawat abu-abu krem yang lebih tua dari Dewi sendiri. Di layar kecilnya yang berwarna hijau, tertera nomor ekstensi pemanggil: 909.
Dewi mengerutkan kening. Ekstensi tiga digit berawalan sembilan berarti lantai sembilan. Dan lantai sembilan sudah kosong sejak dua tahun lalu, sejak manajemen gedung mengumumkan renovasi yang tidak pernah benar-benar dimulai. Pintu lift ke lantai itu bahkan diberi stiker TIDAK BEROPERASI.
Telepon terus berdering. Dering yang panjang dan sabar.
Ia mengangkatnya. "Halo, akuntansi."
Hening. Lalu suara laki-laki, pelan, sopan, dengan logat Jawa yang lembut.
"Selamat malam, Bu. Maaf mengganggu. Slip saya masih ketinggalan."
"Slip apa, Pak? Ini siapa?"
"Slip gaji, Bu. Bulan Februari. Saya sudah tunggu lama."
Dewi melirik kalender di dinding. Oktober. "Pak, ini akuntansi lantai enam. Kalau soal slip gaji, besok pagi hubungi HRD, ya. Bapak dari divisi mana?"
"Saya OB, Bu. Lantai sembilan."
Sambungan terputus. Bukan bunyi tut-tut seperti biasa, melainkan bunyi desis panjang, seperti radio yang kehilangan siaran, lalu sunyi.
Dewi meletakkan gagang telepon pelan-pelan. Ia memandang ke arah lorong. Lampu-lampu sudah dimatikan separuh demi hemat listrik, menyisakan pulau-pulau cahaya pucat di antara bayangan.
Pasti iseng, katanya pada diri sendiri. Satpam bosan, atau teknisi telepon yang lagi uji jalur.
Ia kembali ke layar. Empat juta tiga ratus ribu. Ia mengetik, menggulir, mengetik lagi.
Pukul 23.40, ia menemukan selisihnya. Biaya administrasi bank yang dicatat dua kali. Ia hampir bersorak sendirian di ruangan kosong. Ia menyimpan file, mematikan komputer, mengambil tas, lalu berjalan ke lift.
Lift datang dengan derit panjang. Ia masuk dan menekan tombol L.
Pintu menutup. Lift bergerak.
Ke atas.
Dewi menatap panel angka. Tujuh. Delapan. Ia menekan tombol L berkali-kali, lalu tombol buka pintu, lalu tombol darurat. Tidak ada yang berfungsi.
Sembilan.
Lift berhenti dengan sentakan halus, dan pintunya terbuka.
Lantai sembilan gelap, tapi tidak sepenuhnya. Di ujung lorong, ada satu lampu meja yang menyala kuning, menerangi meja kayu kecil di depan pintu bertuliskan ARSIP. Di atas meja itu ada pesawat telepon abu-abu krem, persis seperti miliknya. Kabelnya terjuntai ke lantai, tidak tersambung ke mana pun.
Bau lumpur kering menyentuh hidungnya. Bau sungai setelah banjir surut.
Karpet lorong di depannya tidak seperti karpet di lantai enam. Warnanya lebih gelap, bergelombang, dan di sepanjang dindingnya ada garis cokelat setinggi lutut, lurus dan rata, seperti bekas sesuatu yang pernah menggenang lama di sana. Di dekat pintu tangga darurat, sepasang sandal jepit karet diletakkan rapi menghadap ke dinding, seperti ditinggalkan pemiliknya yang sedang masuk ke ruangan dan akan segera kembali.
"Halo?" suara Dewi nyaris tidak keluar.
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi pendingin ruangan yang tidak seharusnya menyala di lantai kosong.
Dewi menekan tombol tutup pintu dengan seluruh tenaganya. Kali ini lift menurut. Pintu menutup, dan lift turun, enam, lima, empat, sampai lobi, tanpa berhenti.
Pak Karim sedang duduk di meja satpam sambil menonton sepak bola di ponselnya. Ia mendongak ketika Dewi keluar dengan wajah pucat.
"Lho, Mbak Dewi, kok dari atas? Saya kira sudah turun dari tadi."
"Pak," kata Dewi, "lantai sembilan itu... ada orangnya?"
Wajah Pak Karim berubah. Ia mematikan ponselnya.
"Mbak naik ke sembilan?"
"Liftnya naik sendiri."
Pak Karim diam lama. Lalu ia berkata pelan, "Pulang dulu, Mbak. Sudah malam. Besok saja kita ngobrol."
Di taksi daring menuju rumahnya di Rawamangun, Dewi membuka laptop untuk memastikan file tutup bukunya tersimpan dengan benar. Ia membuka spreadsheet itu.
Semua rapi. Angka-angka cocok.
Tapi di sheet terakhir, sheet yang tidak pernah ia buat, ada satu tab baru bernama Gaji Feb 2007. Di dalamnya hanya ada satu baris:
Hasan — Office Boy — Lantai 9 — BELUM DIBAYAR.