Penumpang yang Salah Dijemput
Kapal merapat ketika matahari baru naik setinggi tiang bendera, dan hal pertama yang Kirana lihat dari geladak adalah gunung. Gunung Api berdiri di seberang selat seperti tamu yang terlalu besar untuk ruangan kecil, lerengnya hijau di bawah dan cokelat gundul di atas, puncaknya disaput awan tipis yang tidak mau pergi.
"Itu masih aktif, Bu?" tanya Kirana pada perempuan di sebelahnya, yang sejak Ambon tidur bersandar pada karung beras.
"Masih. Tapi dia baik, kalau kita juga baik," jawab perempuan itu tanpa membuka mata.
Kirana mencatat kalimat itu di kepalanya. Di Bogor, gunung juga ada, tetapi gunung di sana selalu tertutup gedung dan kabel listrik. Di sini, gunung itu berdiri sendirian di tengah laut, seperti seseorang yang tidak perlu membuktikan apa-apa. Di ponselnya, catatan perjalanan sudah tersusun rapi: tiba di Neira, lapor ke sekolah, cari kos, beli sabun, isi pulsa. Di bawahnya ada catatan yang lebih panjang, yang ia tulis di Bogor tiga bulan lalu dengan huruf tebal: Satu tahun mengajar. Maret selesai. Agustus S2. Semuanya sudah ia hitung. Program mengajar ini hanya satu baris di riwayat hidup yang ia susun seperti jadwal pelajaran.
Dermaga penuh. Ada anak-anak yang berlari di antara tumpukan kardus, tukang ojek yang menawarkan jasa dengan suara rendah, ibu-ibu yang menjemput sambil membawa termos. Kirana menyeret kopernya ke tepi, mencari wajah yang mungkin dikirim sekolah untuk menjemputnya. Bu Ance, kepala sekolah, berjanji akan "menyuruh orang".
"Ibu Kirana?"
Laki-laki itu memakai kaus abu-abu yang warnanya sudah pasrah pada matahari, celana pendek, dan sandal jepit. Di bahunya tersampir karung kecil yang berbau harum, harum yang aneh dan hangat, seperti kue Natal dan hujan sekaligus. Ia memegang selembar kertas bertuliskan IBU KIRANA dengan spidol biru.
"Iya, saya," kata Kirana lega. "Dari sekolah, ya?"
"Dari sekolah juga, dari Bu Ance juga." Ia tersenyum. "Fajar."
Ia mengambil koper Kirana tanpa bertanya, memanggulnya di bahu yang tidak ada karungnya, lalu berjalan menyusuri jalan sempit di antara rumah-rumah tua bertiang tinggi. Kirana mengikutinya, menyesuaikan langkah dengan sandal jepit yang ternyata tidak terburu-buru sama sekali.
Mereka melewati gedung putih besar dengan pilar-pilar tinggi. "Istana Mini," kata Fajar tanpa ditanya. "Rumah gubernur Belanda dulu. Di belakang sana ada Rumah Pengasingan Bung Hatta. Ibu guru nanti bisa bawa murid ke sana. Anak-anak suka meja tulisnya."
"Bapak pemandu wisata?"
"Kalau ada tamu." Ia menoleh. "Panggil Fajar saja. Di sini yang dipanggil Bapak itu yang sudah punya cucu."
Rumah kos yang dipilihkan Bu Ance ternyata kamar di belakang rumah Mama Ani, penjual kue yang dapurnya menguarkan bau gula merah. Fajar meletakkan koper di depan pintu, menyalami Mama Ani, lalu menatap kertas di tangannya lagi dengan kening berkerut.
"Ibu Kirana," katanya pelan, "Ibu guru dari Bogor, kan?"
"Iya."
"Bukan Ibu Kirana dari dinas pariwisata?"
Kirana menatapnya. Fajar menatap Kirana. Mama Ani tertawa sampai tangannya yang belepotan tepung menutupi mulut.
Ternyata ada dua Kirana di kapal itu. Satu guru kontrak yang menunggu dijemput sekolah, satu lagi pegawai dinas yang memesan pemandu untuk survei benteng. Fajar dikirim untuk yang kedua. Sementara itu, orang suruhan Bu Ance, seorang murid kelas enam bernama Ilham, masih berdiri di dermaga memegang kertas bertuliskan BU GURU BARU, sabar menunggu penumpang yang sudah lama dibawa pergi.
"Maaf," kata Kirana. Wajahnya panas. "Saya kira..."
"Saya juga kira." Fajar menggaruk kepalanya. "Di Banda, nama orang tidak banyak. Kirana baru dua. Tadi saya pikir: wah, dinas sekarang bawa koper sebesar ini."
"Ibu dinasnya bagaimana?"
"Mungkin sedang marah di dermaga." Ia tidak terlihat khawatir. "Tidak apa. Nanti saya jelaskan. Orang di sini tidak gampang marah lama-lama. Matahari terlalu panas untuk itu."
Ia berpamitan, lalu berbalik di ambang pagar. "Ilham itu adik saya," katanya. "Kalau dia cemberut karena menunggu lama, kasih saja dia kue Mama Ani. Dia murah."
Sore itu Kirana duduk di teras kos dengan buku catatan terbuka, mencoba menyusun rencana minggu pertama. Tapi pikirannya terus melayang ke bau karung itu. Ia bertanya pada Mama Ani.
"Pala," kata Mama Ani, seakan Kirana bertanya apa nama laut. "Fajar punya kebun di Lonthoir, di pulau besar sana. Kebun warisan. Pala Banda itu yang dulu dicari orang sampai perang, Bu Guru. Sekarang pun masih harum, cuma harganya tidak sewangi dulu."
Malam turun cepat di Banda. Lampu-lampu rumah menyala satu-satu, dan gunung berubah menjadi bentuk hitam yang lebih gelap dari langit. Kirana sedang menyikat gigi ketika pintu kamar diketuk.
Ilham berdiri di sana, dua belas tahun, dengan kaus seragam olahraga dan wajah yang dibuat sangat serius.
"Ibu guru," katanya. "Saya tunggu di dermaga dari jam tujuh sampai jam sebelas."
"Maaf, Ilham. Ibu salah ikut orang."
"Ikut kakak saya." Ilham mengangguk, seperti itu sudah menjelaskan banyak hal. Lalu ia menyerahkan sesuatu: sebuah amplop dari Bu Ance. "Pesan dari Ibu Kepala. Besok jangan pakai sepatu bagus."
"Kenapa?"
Ilham menatap ke arah sekolah yang tidak kelihatan di gelap. "Kalau hujan, kelas lima tergenang. Atapnya bocor sudah dua tahun. Besok katanya mau hujan."
Kirana membuka amplop. Di dalamnya ada daftar murid, jadwal mengajar, dan satu kalimat tulisan tangan Bu Ance di bagian bawah:
Untuk atap, saya sudah minta tolong Fajar. Jangan kaget, dia memang selalu datang terlambat, tapi selalu datang.