Pesanan dengan Pita Biru
Garasi itu selalu berbau udang kering dan selotip baru.
Bima sudah terbiasa dengan baunya. Dua tahun sejak Ibu meninggal, garasi rumah di Rungkut itu tidak lagi menyimpan motor. Isinya rak besi berisi kerupuk udang dalam plastik bening, tumpukan kardus lipat, timbangan digital, dan printer resi kecil yang suaranya seperti jangkrik kalau sedang mencetak.
Di setiap bungkus tertempel stiker yang sama sejak Bima masih SD: Kerupuk Udang Ibu Sri. Gambarnya seorang perempuan berkerudung tersenyum sambil memegang tampah. Ibu dulu menggambarnya sendiri dengan spidol, lalu tetangga yang bekerja di percetakan membuatkannya jadi stiker. Bima tidak pernah tega menggantinya.
Pagi di garasi selalu dimulai dengan urutan yang sama. Bima menyalakan kipas angin berdiri yang bunyinya seperti mesin jahit, menyalakan printer resi, lalu menggoreng satu genggam kerupuk untuk dicicipi. Kalau kerupuknya mekar sempurna dan renyah sampai gigitan terakhir, stok hari itu aman dijual. Kalau ada yang keras di tengah, satu toples ia sisihkan untuk dimakan sendiri. Ibu yang mengajarkan aturan itu. "Pembeli boleh lupa nama kita," kata Ibu dulu, "tapi mereka nggak akan lupa kerupuk yang keras."
Setelah itu ia mencetak resi, menimbang, membungkus dengan plastik gelembung, dan menyusun paket di keranjang sesuai kurir. Paket bayar di tempat ia tandai dengan spidol merah di pojok, supaya Mas Anto tidak salah menagih. Pekerjaannya tidak rumit. Tapi setiap kali menempelkan stiker bergambar Ibu, Bima masih merasa seperti sedang menjaga sesuatu yang dititipkan.
"Mas, pesanan pagi ini dua puluh tiga," kata Tika dari kursi plastik di pojok, matanya tidak lepas dari ponsel. Adiknya itu kuliah semester akhir, dan sejak tiga bulan lalu resmi menjadi "admin chat" dengan bayaran makan siang dan pulsa. "Tiga COD, sisanya transfer. Ada satu yang aneh."
"Aneh gimana?"
"Lihat sendiri."
Bima mengelap tangan di celana, lalu melongok layar ponsel Tika.
Pesanan nomor 23. Satu bungkus Kerupuk Udang Ibu Sri 250 gram. Bayar di tempat. Nama penerima: Rara. Alamat: Jalan Kenanga Gang III Nomor 17, Wonokromo, Surabaya.
Di kolom catatan untuk penjual tertulis:
Mohon diikat pita biru, jangan pakai selotip di bagian depan. 17/1.
"Pita biru," ulang Bima.
"Itu juga yang bikin aku bingung. Kita kan nggak jual pita. Terus 17/1 itu apa? Tanggal? Nomor rumah sama apa?"
Bima tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang bergerak samar di kepalanya, seperti nama orang yang ada di ujung lidah tapi tidak mau keluar.
Ibu dulu punya segulung pita satin biru di laci meja jahit. Bima ingat karena waktu kecil ia pernah memakainya untuk mengikat layangan, lalu dimarahi habis-habisan. "Itu bukan buat mainan," kata Ibu waktu itu. "Itu buat pelanggan istimewa."
Bima tidak pernah bertanya siapa pelanggan istimewa itu. Anak umur sepuluh tahun tidak peduli soal pelanggan.
"Pesanannya diterima saja," katanya akhirnya. "Pita biru kayaknya masih ada di laci Ibu."
Laci meja jahit itu sudah dua tahun tidak dibuka. Isinya benang, jarum pentul yang menancap di bantalan berbentuk tomat, kancing-kancing lepas di kaleng bekas biskuit, dan di paling belakang, segulung pita satin biru yang tinggal setengah.
Bima memotong sekitar empat puluh senti, mengikatnya melingkari bungkus kerupuk, dan membuat simpul pita yang agak miring. Ibu pasti bisa membuatnya lebih rapi.
Ia menempelkan resi di bagian belakang, sesuai permintaan, bukan di depan.
"Mas," kata Tika sambil mengangkat ponselnya, "pembelinya chat."
Pesan itu masuk pukul 09.12.
Selamat pagi, Nak. Maaf mengganggu. Apakah pesanan saya bisa dikirim hari ini? Mohon maaf balasnya lambat, tadi antre obat.
Bahasanya rapi, dengan tanda baca lengkap. Jarang sekali pembeli kerupuk mengetik "Nak".
Tika membalas dengan templat yang biasa: pesanan sudah dikemas, kurir menjemput pukul sebelas, perkiraan sampai sore ini. Lalu ia menambahkan satu kalimat sendiri: Pita birunya sudah kami ikatkan ya, Pak.
Balasan datang satu menit kemudian.
Terima kasih, Nak. Semoga Ibu Sri sehat selalu.
Tika menoleh ke kakaknya. Bima pura-pura sibuk menimbang kardus.
"Mau aku jelasin kalau Ibu sudah nggak ada?" tanya Tika pelan.
"Nggak usah," kata Bima. "Nanti saja."
Mas Anto, kurir langganan mereka, datang pukul sebelas lewat lima. Ia memarkir motornya di depan garasi dengan keranjang besar di jok belakang, lalu memindai satu per satu resi dengan ponselnya.
Sampai di paket berpita biru, ia berhenti.
"Kenanga Gang III nomor tujuh belas," gumamnya. "Mas Bima yakin alamatnya ini?"
"Kenapa memangnya?"
"Itu kan daerah saya juga, Mas. Gang itu sempit, motor saja harus pelan." Mas Anto menggaruk kepala di bawah helm. "Seingat saya, nomor tujuh belas itu rumah yang jendelanya biru. Sudah lama kosong."
"Mungkin baru ditempati lagi."
"Mungkin." Mas Anto tidak terdengar yakin. Ia memasukkan paket itu ke keranjang paling atas. "Nanti saya kabari."
Kabar itu datang pukul empat sore, lewat pesan suara. Bima sedang menggoreng sampel kerupuk untuk difoto, jadi Tika yang memutarnya keras-keras.
"Mas Bima, ini Anto. Paket yang pita biru sudah selesai, COD sudah dibayar. Tapi aneh, Mas. Rumahnya benar kosong, pintunya digembok, kacanya berdebu. Saya sudah mau balik, mau saya tandai gagal kirim. Terus ada mbak-mbak pakai topi lari dari mulut gang. Dia bilang, 'Itu buat saya, Mas, buat Rara.' Dia bayar pakai uang pas, recehnya dimasukkan amplop. Amplopnya amplop bekas dari ekspedisi lain, ada logonya. Terus paketnya dia bawa lari lagi, belum sempat saya foto mukanya."
Jeda sebentar. Terdengar suara motor lewat di latar.
"Satu lagi, Mas. Bapak-bapak warung di depan gang bilang, rumah itu sudah kosong enam tahun. Katanya yang punya, Pak Wiryo, sudah pindah ke luar kota."
Bima mematikan kompor.
Malam itu ia sempat mencari Jalan Kenanga Gang III di peta. Yang muncul hanya garis tipis di antara atap-atap rumah, tanpa satu pun foto.
Seminggu berlalu tanpa kejadian apa-apa. Bima hampir lupa.
Lalu Selasa berikutnya, pukul 09.12, ponsel Tika berbunyi.
"Mas," katanya pelan, "akun yang sama pesan lagi."
Bima mendekat.
Satu bungkus Kerupuk Udang Ibu Sri 250 gram. Bayar di tempat. Penerima: Rara. Jalan Kenanga Gang III Nomor 17.
Kolom catatan:
Mohon diikat pita biru. 17/2. Jendela birunya masih ada?