Pensil Warna Terakhir
Kotak pensil warna itu datang enam bulan lalu, bersama kardus-kardus buku sumbangan dari sebuah kantor di Kupang. Dua puluh empat warna, merek bagus, ujung-ujungnya masih runcing. Pak Ruben, guru kelas dua di sebuah SD kecil di Rote, meletakkannya di lemari kelas dan mengumumkan aturan: pensil warna dipakai bersama, dikembalikan setelah pelajaran, dan tidak boleh dibawa pulang.
Enam bulan kemudian, yang tersisa tinggal satu batang. Biru.
Bukan karena hilang atau dicuri. Pensil-pensil itu habis dipakai sampai pendek sekali, sampai tidak bisa digenggam lagi, sampai anak-anak memakainya dengan ujung jari seperti memegang biji jagung. Merah habis duluan, karena semua anak suka menggambar bunga. Lalu kuning untuk matahari. Lalu hijau untuk pohon lontar.
Biru bertahan paling lama. Mungkin karena laut di sekitar Rote begitu biru, anak-anak tidak merasa perlu menggambarnya. Laut itu ada di mana-mana, di ujung setiap jalan, di balik setiap rumah. Siapa yang mau menggambar sesuatu yang sudah selalu ada?
Lalu datang pengumuman: lomba menggambar tingkat kecamatan. Temanya, "Lautku".
Tiba-tiba semua anak ingin pensil biru.
"Pak, beta duluan!"
"Beta sudah pegang dari tadi!"
"Lu tadi sudah pakai, sekarang beta!"
Pak Ruben berdiri di depan kelas, memandang dua puluh satu anak yang mengerubungi satu batang pensil biru sepanjang jari kelingking. Gaji honorernya baru turun separuh bulan ini. Toko alat tulis terdekat ada di Ba'a, satu jam naik motor, dan pensil warna merek bagus di sana harganya cukup untuk membeli beras seminggu.
Ia mengangkat tangan. Anak-anak diam.
"Pensil ini tinggal satu," katanya. "Lombanya untuk tiga orang perwakilan kelas. Bagaimana kita bagi?"
Anak-anak mengusulkan macam-macam. Undian. Lomba lari. Siapa yang paling rajin. Siapa yang paling pintar menggambar. Seorang anak bernama Yeskiel, yang paling kecil di kelas, mengusulkan agar pensil itu dipotong menjadi dua puluh satu bagian.
"Nanti terlalu kecil, Yes," kata temannya.
"Biar. Yang penting semua dapat."
Kelas tertawa. Tapi Pak Ruben tidak. Ia memandang Yeskiel lama, anak yang selalu datang ke sekolah berjalan kaki dua kilometer dari kampung di pinggir pantai, yang ayahnya petani rumput laut, yang gambarnya selalu ia simpan di laci karena terlalu indah untuk ditempel di dinding kelas yang lembap.
"Ide Yeskiel bagus," katanya. "Tapi kita ubah sedikit."
Pak Ruben mengumumkan aturan baru. Tidak ada yang memakai pensil biru sendirian. Setiap anak boleh membuat satu garis biru, di satu kertas besar yang sama. Satu garis saja. Mereka harus berpikir: garis apa yang paling penting untuk laut mereka?
Kertas karton putih besar ditempel di papan tulis. Anak-anak berbaris.
Anak pertama menggambar garis cakrawala, panjang dan lurus.
Anak kedua menggambar ombak kecil di dekat pantai.
Anak ketiga menggambar layar perahu nelayan.
Anak keempat, setelah lama berpikir, menggambar garis di bawah perahu, katanya bayangan perahu di air.
Satu demi satu, dua puluh satu garis biru mengisi kertas. Ada yang menggambar ikan, ada yang menggambar tali rumput laut, ada yang menggambar burung camar yang terbang terlalu rendah. Seorang anak perempuan menggambar air mata kecil di sudut, dan ketika ditanya kenapa, ia menjawab, "Untuk bapak beta yang melaut ke Australia dan belum pulang."
Kelas terdiam. Pak Ruben menepuk pundaknya pelan.
Yeskiel maju terakhir. Pensil biru tinggal sepanjang ruas jari. Ia memandang kertas lama sekali, lalu menggambar sesuatu yang sangat kecil di tengah: seorang anak duduk di atas karang, memandang laut, dengan garis biru tipis yang melingkari tubuhnya.
"Itu apa, Yes?"
"Itu angin, Pak," jawab Yeskiel. "Angin laut Rote. Biru juga, cuma tidak kelihatan."
Setelah selesai, anak-anak berdiri berderet memandang kertas itu. Dari dekat, garis-garisnya tampak acak. Tapi ketika mereka mundur ke belakang kelas, garis-garis itu menyatu menjadi satu laut yang utuh: laut dengan cakrawala, perahu, ikan, burung, rumput laut, angin, dan air mata kecil di sudut.
"Itu laut kita," kata seorang anak.
"Bukan," jawab yang lain. "Itu laut beta, laut lu, laut semua."
Pak Ruben tidak menjawab. Ia hanya memotret kertas itu dengan ponselnya yang layarnya retak, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ia lupa memikirkan gajinya yang belum turun penuh.
Pak Ruben mengirim kertas itu ke lomba kecamatan sebagai karya kelas, bukan karya perorangan. Panitia sempat ragu, karena aturan lomba untuk perwakilan tiga anak. Tapi kepala sekolah menelepon, menjelaskan, dan akhirnya mereka diizinkan masuk kategori khusus.
Karya itu tidak menang juara satu. Juara satu diraih sekolah di kota yang punya pensil warna lengkap dan cat air. Tapi gambar dua puluh satu garis biru itu mendapat penghargaan khusus juri, dan seorang juri, ibu guru seni dari Kupang, menulis catatan di belakangnya:
Ini gambar laut paling jujur yang saya lihat tahun ini. Satu warna, dua puluh satu cara melihat.
Seminggu kemudian, sebuah paket datang ke sekolah. Isinya dua kotak pensil warna, buku gambar, dan surat pendek dari juri itu: Untuk kelas dua yang mengajari saya bahwa satu warna pun cukup, kalau dibagi dengan baik.
Anak-anak bersorak. Mereka berebut melihat warna-warna baru, merah dan kuning dan hijau yang runcing dan panjang.
Tapi Yeskiel tidak ikut berebut. Ia berjalan ke meja Pak Ruben dan bertanya pelan, "Pak, pensil biru yang lama boleh beta simpan?"
Pensil itu tinggal sepanjang kuku. Hampir tidak bisa dipakai.
"Untuk apa, Yes?"
"Untuk ingat," jawab Yeskiel. "Kalau nanti beta punya banyak, beta mau ingat waktu kita cuma punya satu."
Pak Ruben memberikannya. Dan malam itu, di rumah dinasnya yang sederhana, ia menulis di buku catatan mengajarnya kalimat yang akan ia ingat bertahun-tahun:
Hari ini muridku mengajariku cara mengajar berbagi. Bukan dengan memotong pensil, tapi dengan membagi garis.