Episode 1 dari 1

Penumpang Dek Bawah

Penumpang Dek Bawah · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Kapal Nusa Bahari berangkat dari Merak pukul satu lewat sepuluh, terlambat empat puluh menit dari jadwal. Pak Burhan tidak mengeluh. Dua puluh tahun menyeberangkan truk sayur ke Lampung membuatnya hafal satu hal: selat ini punya jamnya sendiri, dan manusia hanya boleh menyesuaikan.

Ia memarkir truknya di dek bawah, di barisan paling ujung dekat lambung kapal, di antara dua truk kontainer yang sopirnya langsung naik ke dek penumpang. Biasanya Pak Burhan ikut naik. Ada kopi sachet, ada kursi plastik, ada televisi kecil yang memutar sinetron tanpa suara. Malam ini ia memilih tetap di kabin truk. Punggungnya sakit, dan muatannya, empat ton kol dari Pangalengan, harus sampai di Pasar Natar sebelum subuh.

Mesin kapal menggeram di bawah kakinya. Lampu dek kendaraan berwarna kuning pucat, sebagian sudah mati, sehingga lorong di antara truk-truk tampak seperti gang sempit tanpa ujung.

Ia baru setengah tertidur ketika mendengar suara itu.

"Pak...? Bapak...?"

Suara anak kecil. Laki-laki, mungkin enam atau tujuh tahun. Suaranya tidak menangis, hanya memanggil, pelan dan sabar, seperti anak yang sudah lama terbiasa menunggu.

Pak Burhan membuka mata. Dari kaca spion kanan, ia melihat sosok kecil berjalan di antara roda truk kontainer. Kaus biru pudar, celana pendek, sandal jepit yang kebesaran. Anak itu berhenti di setiap truk, mengintip ke kabin, lalu berjalan lagi.

"Dik!" Pak Burhan membuka pintu dan turun. "Kok sendirian di sini? Dek bawah nggak boleh buat penumpang, nanti dimarahi kru."

Anak itu menoleh. Wajahnya biasa saja, pipinya bulat, rambutnya dipotong cepak seperti anak-anak kampung yang dicukur bapaknya sendiri. Ia memegang sebuah mainan truk plastik berwarna kuning, roda depannya sudah hilang satu.

"Saya cari Bapak," katanya. "Bapak sopir truk. Katanya mau pulang."

"Bapakmu truk yang mana?"

Anak itu mengangkat bahu. "Semua truk mirip."

Pak Burhan tertawa kecil, lalu berjongkok. Lantai dek dingin dan basah oleh sisa air laut yang menetes dari pintu rampa. "Ayo, Bapak antar ke atas. Nanti kita tanya ke awak kapal, biar diumumkan."

Anak itu menggeleng. "Bapak nggak suka ke atas. Bapak suka tidur di truk."

Sesuatu di kalimat itu membuat tengkuk Pak Burhan dingin. Ia sendiri tidak suka ke atas. Ia sendiri selalu tidur di truk.

"Siapa namamu?"

"Ari."

Mesin kapal mendadak mengeras, seperti tersedak, lalu kembali normal. Lampu di atas mereka berkedip dua kali.

Pak Burhan berdiri pelan. Anaknya, di rumah di Cianjur, juga bernama Ari. Bedanya, Ari-nya sekarang sudah dua puluh enam tahun, kerja di pabrik sepatu di Tangerang, dan sudah hampir dua tahun tidak saling telepon sejak pertengkaran soal uang kuliah yang tidak pernah selesai.

"Ari," ulangnya. "Nama yang bagus."

"Bapak yang kasih," kata anak itu bangga. "Katanya biar hidup Ari terang terus, kayak matahari."

Pak Burhan menelan ludah. Itu kalimatnya sendiri. Ia mengatakannya pada istrinya di bidan desa, dua puluh enam tahun lalu, sambil menggendong bayi merah yang belum berhenti menangis.

"Ari mau ke mana?"

"Pulang," kata anak itu. "Tapi Bapak terus pergi. Ari nunggu di depan rumah, Bapak nggak datang. Ari nunggu lagi, Bapak nggak datang. Terus Ari capek nunggu, jadi Ari cari sendiri."

Pak Burhan ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kaku. Ia ingat malam-malam itu. Ari kecil duduk di teras dengan mainan truk kuning, menunggu suara mesin truk bapaknya masuk gang. Ia ingat telepon dari istrinya: Ari nanya terus, Pak. Bapak pulang kapan? Dan ia ingat jawabannya sendiri, selalu sama: Minggu depan. Muatan lagi banyak.

"Kru!" Pak Burhan memanggil ke arah tangga besi. "Mas! Ada anak kecil di sini!"

Seorang awak kapal berseragam oranye turun sambil menenteng senter. "Kenapa, Pak?"

"Ini, ada anak, cari bapaknya."

Senter itu menyorot ke lantai di sebelah Pak Burhan. Kosong. Hanya genangan kecil air laut yang memantulkan cahaya kuning.

"Anak di mana, Pak?"

Pak Burhan menoleh ke sekeliling. Lorong di antara truk-truk sunyi. Tidak ada kaus biru, tidak ada sandal kebesaran.

"Tadi di sini," katanya. "Ngomong sama saya."

Awak kapal itu menatapnya sebentar, lalu menyorot ke arah rampa, ke kolong truk kontainer, ke celah di antara ban. "Manifes malam ini nggak ada penumpang anak di dek bawah, Pak. Mungkin Bapak kecapekan. Naik saja ke atas, ngopi dulu."

Pak Burhan tidak menjawab. Ia memanjat kembali ke kabin dan menutup pintu. Tangannya gemetar saat menyalakan lampu kabin.

Di jok penumpang, di samping termos kopinya, ada sebuah mainan truk plastik berwarna kuning. Roda depannya hilang satu.

Ia tidak berani menyentuhnya. Ia hanya menatapnya sampai kapal merapat di Bakauheni dan rampa turun dengan bunyi besi yang memekakkan.

Pukul empat lewat dua puluh, di parkiran Pasar Natar, Pak Burhan duduk lama di kabin tanpa menurunkan muatan. Kuli angkut sudah mengetuk pintu dua kali. Ia meminta mereka menunggu lima menit.

Ia mencari nomor di ponselnya. Nomor itu masih tersimpan dengan nama Ari Anakku. Ia menekan tombol panggil sebelum sempat berubah pikiran.

Nada sambung berbunyi lama. Ia hampir menutupnya.

"Halo?" Suara laki-laki dewasa, serak, setengah tidur. "Pak? Ada apa, Pak? Bapak sakit?"

"Nggak," kata Pak Burhan. Suaranya pecah. "Bapak nggak sakit. Bapak cuma mau bilang... Bapak minggu depan pulang. Beneran pulang. Bapak mampir Tangerang dulu, ya. Kita makan bareng."

Di ujung telepon, sunyi lama. Lalu terdengar tawa kecil yang terdengar seperti tangis yang ditahan.

"Bapak ingat nggak," kata Ari, "dulu Ari punya truk-trukan kuning? Rodanya copot satu. Ari cari-cari dari kemarin di rumah Ibu, nggak ketemu. Padahal Ari mau kasih ke anak tetangga."

Pak Burhan menoleh ke jok penumpang.

Jok itu kosong. Hanya ada termos kopi, dan di permukaan kulit sintetisnya yang retak-retak, bekas basah kecil berbentuk roda.

"Nanti Bapak bawakan yang baru," katanya pelan. "Yang rodanya lengkap."

Ia menutup telepon, membuka pintu, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Pak Burhan tidak terburu-buru menurunkan muatan. Matahari mulai naik di atas atap seng pasar, terang dan hangat, seperti nama yang pernah ia berikan dulu.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu