Galon Kosong Hari Senin
Fajar bangun pukul lima pagi dengan tenggorokan kering seperti amplas. Malam sebelumnya ia begadang mengerjakan laporan praktikum akuntansi biaya dan makan seblak level lima sebagai hadiah karena sudah sampai halaman sembilan. Sekarang ia membayar harganya.
Ia berjalan ke dapur Kos Putra Mawar dengan mata setengah tertutup, mengambil gelas, menekan tuas dispenser, dan mendengar bunyi yang paling menyakitkan dalam kehidupan anak kos.
Blukuk.
Lalu sunyi.
Fajar menatap galon di atas dispenser. Kosong. Tidak setengah, tidak tinggal sedikit, tetapi kosong total, sampai dasar galon terlihat kering seperti sumur di musim kemarau. Di sebelah dispenser, tertempel kertas HVS yang sudah menguning, berisi aturan nomor tujuh dari sepuluh aturan kos yang ditulis Bu Har, ibu kos, tiga tahun lalu.
ATURAN 7: YANG MENGHABISKAN GALON, YANG MENGGANTI. JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU.
Fajar membaca kalimat terakhir itu dua kali. Bu Har jelas menulisnya dari pengalaman.
Ia minum air keran, lalu menyesal, lalu duduk di kursi dapur dan mulai berpikir. Galon itu ia ganti sendiri hari Jumat sore. Ia ingat karena ia harus memanggulnya dari warung Cak Mat di ujung gang, dua puluh liter, sambil membawa map tugas di tangan kiri. Hari Jumat sampai Senin pagi, tiga hari. Enam orang. Sembilan belas liter air.
Itu bukan angka yang wajar, bahkan untuk anak kos yang suka masak mi.
Kos Putra Mawar terletak di gang sempit di dekat kampus, di antara warung fotokopi dan bengkel tambal ban. Rumahnya dua lantai, catnya hijau pucat, dan di halaman ada pohon mangga yang tidak pernah berbuah tapi selalu menjatuhkan daun ke jemuran. Enam kamar, enam penghuni, enam kepribadian yang tidak pernah benar-benar cocok.
Kamar satu adalah Fajar, mahasiswa akuntansi yang mencatat semua pengeluarannya di aplikasi, sampai harga parkir dua ribu.
Kamar dua adalah Bimo, mahasiswa teknik mesin, yang tidur pukul empat pagi dan bangun pukul dua siang, dan tidak pernah terlihat memegang galon.
Kamar tiga adalah Raffael, anak seni rupa berambut gondrong yang selalu membawa botol minum kaca besar ke mana-mana dan menyebutnya "Si Bening".
Kamar empat adalah Ucup, mahasiswa agribisnis yang memelihara ikan cupang di toples bekas selai dan mengganti airnya setiap hari, demi kesehatan mental ikan-ikannya.
Kamar lima adalah Daniel, mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang jarang di kos karena koas di rumah sakit, tetapi setiap pulang langsung mandi air hangat selama empat puluh menit.
Kamar enam adalah Pak Tono, satu-satunya penghuni yang bukan mahasiswa. Ia karyawan bank yang dipindahtugaskan ke Malang, berusia empat puluh tahun, dan memilih kos ini karena dekat kantor. Ia selalu bangun paling pagi, menyiram tanaman Bu Har, dan memasak nasi dengan rice cooker pribadinya.
Pukul tujuh pagi, Fajar sudah menunggu di dapur dengan buku catatan kecil bersampul cokelat. Ia mencegat setiap penghuni yang lewat.
"Bim, kamu minum dari galon kemarin?"
Bimo, yang baru akan tidur, mengerjap. "Aku minum es teh dari burjo."
"Raf?"
"Si Bening kuisi di kampus. Air galon kampus gratis."
"Cup?"
Ucup terlihat sedikit gugup. "Aku ganti air cupang pakai air keran yang diendapkan semalam. Kalau pakai air galon, cupangnya manja."
"Pak Tono?"
Pak Tono sedang menyiram tanaman dengan gembor. "Saya masak nasi pakai air galon, Mas. Dua gelas sehari. Selebihnya saya minum teh di kantor."
Fajar mencatat semuanya. Bimo nol. Raffael nol. Ucup nol, katanya. Pak Tono dua gelas sehari. Daniel, menurut jadwal di pintu kamarnya, jaga malam sejak Jumat dan belum pulang.
Total pengakuan: kurang dari dua liter. Galon yang hilang: sembilan belas liter.
"Ada tujuh belas liter yang menguap," gumam Fajar.
"Mungkin bocor," kata Bimo, sebelum menutup pintu kamarnya dan tidur.
Fajar memeriksa dispenser. Tidak bocor. Lantai di bawahnya kering. Ia memeriksa galon. Tidak retak. Ia bahkan memeriksa selang di bawah dispenser dengan senter ponsel, sampai Bu Har yang lewat untuk mengambil uang listrik menatapnya dengan curiga.
"Mas Fajar, kamu nyari apa di bawah dispenser?"
"Kebenaran, Bu."
Bu Har menggeleng dan berlalu.
Sore harinya, Fajar membeli galon baru dari warung Cak Mat. Dua puluh ribu rupiah. Ia mencatatnya di aplikasi dengan kategori baru: Galon Misterius. Lalu, sebelum memasangnya di dispenser, ia melakukan sesuatu yang membuat Raffael, yang kebetulan lewat, berhenti dan menatapnya.
Fajar menempelkan selotip kertas secara vertikal di sisi galon, dan dengan spidol hitam, menggambar garis-garis kecil setiap dua sentimeter, lalu menulis tanggal dan jam di bagian atasnya.
SENIN 17.40. PENUH.
"Jar," kata Raffael pelan, "kamu bikin penggaris di galon?"
"Ini alat ukur."
"Untuk apa?"
"Untuk mengetahui kapan air turun paling cepat." Fajar mundur selangkah, menatap karyanya dengan bangga. "Dengan data, kita bisa tahu jam berapa pelakunya beraksi."
Raffael menatap galon itu lama, lalu menatap Fajar. "Kamu sadar kamu terdengar seperti detektif di film?"
"Detektif tidak pakai aplikasi pencatat keuangan."
"Itu yang bikin kamu lebih menakutkan."
Malam itu, Fajar mengecek galon tiga kali. Pukul sembilan malam, air turun dua garis. Wajar, karena Pak Tono masak nasi dan Ucup membuat kopi. Pukul sebelas malam, turun satu garis lagi. Pukul satu dini hari, saat Fajar terbangun untuk ke kamar mandi, ia mengecek lagi.
Air turun lima garis sejak pukul sebelas.
Sepuluh sentimeter air menghilang dalam dua jam, ketika semua lampu kamar sudah padam.
Fajar berdiri di dapur yang gelap, memegang senter ponsel, dengan jantung berdebar. Di luar, angin malam Malang menggoyangkan pohon mangga yang tidak pernah berbuah. Dari kamar dua, terdengar suara game Bimo yang ternyata belum tidur. Dari kamar empat, terdengar bunyi gemericik air.
Bunyi gemericik air, pukul satu dini hari.
Fajar menoleh pelan-pelan ke arah kamar Ucup. Dari celah di bawah pintunya, keluar cahaya biru yang berkedip-kedip, seperti lampu akuarium.