Peron Empat
Episode 1 dari 1

Foto Nomor 117

Peron Empat · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Stasiun Ambarsari terletak di ujung jalan desa yang aspalnya sudah lebih banyak lubang daripada aspal. Bangunannya bergaya kolonial: atap genteng merah yang menjulang, tiang-tiang besi tuang berwarna hijau, dan papan nama berhuruf putih di atas latar biru yang catnya mengelupas. Di depannya, dua pohon asam tua menjatuhkan daun-daun kecil ke peron seperti hujan yang tidak pernah selesai.

Laksmi turun dari ojek pukul empat sore dengan ransel di punggung dan tripod kecil di tangan. Ia mahasiswi tingkat akhir jurusan desain komunikasi visual di Semarang, dan proyek tugas akhirnya berjudul sederhana: Stasiun yang Akan Pergi. Serangkaian foto tentang Stasiun Ambarsari, yang menurut pengumuman di dinding loket akan ditutup permanen pada tanggal tiga puluh satu Desember, digantikan stasiun baru yang lebih besar delapan kilometer ke timur.

Ia hanya membawa ponsel. Dosennya bilang itu nekat. Laksmi bilang itu justru intinya: stasiun ini akan dikenang lewat ponsel orang-orang biasa, bukan lewat kamera mahal.

Kepala stasiun sudah lama tidak ada. Yang tersisa hanya seorang penjaga, Pak Rahmat, laki-laki berusia hampir enam puluh dengan seragam biru yang sudah pudar dan topi dinas yang dipakai agak miring. Ia menyambut Laksmi di depan loket dengan senyum yang ramah tapi waspada.

"Mau motret apa, Mbak? Di sini sudah sepi. Kereta yang berhenti cuma dua sehari, pagi sama sore."

"Semuanya, Pak. Peronnya, loketnya, jam dindingnya. Kalau boleh, sampai malam."

Senyum Pak Rahmat sedikit menegang. "Sampai malam boleh. Tapi sebelum jam sembilan Mbak sudah pulang, ya."

"Kenapa, Pak?"

"Ojeknya susah kalau sudah malam," jawabnya. Laksmi tidak yakin itu jawaban yang sebenarnya.

Sore itu ia bekerja dengan tekun. Ia memotret loket dengan jeruji kayunya yang berukir, papan jadwal yang tulisannya ditulis tangan dengan kapur, timbangan bagasi besi yang tidak pernah dipakai lagi, dan jam dinding besar di atas pintu kepala stasiun yang jarumnya berdetak dengan bunyi kayu. Ia memotret peron satu, dua, dan tiga, yang berjajar rapi dengan rel yang berkilat di bawah matahari sore.

Di sebelah peron tiga, ada tanah lapang berumput yang memanjang sejajar rel. Rumputnya tinggi, dan di tengahnya terlihat sisa-sisa pondasi batu yang rendah, seperti tepi sesuatu yang pernah ada. Laksmi memotretnya juga, karena bentuknya menarik.

Kereta sore datang pukul lima lewat sepuluh, rangkaian pendek tiga gerbong yang berhenti hanya dua menit. Turun seorang ibu membawa karung beras dan dua anak sekolah yang langsung berlari keluar gerbang. Naik seorang laki-laki tua bersarung. Kereta berangkat lagi dengan klakson panjang yang menggema di antara pohon asam, dan stasiun kembali sunyi, seolah tidak pernah ada yang datang.

Laksmi memotret momen itu dari ujung peron: rangkaian kereta yang menjauh, mengecil, lalu hilang di tikungan rel. Di layar ponselnya, foto itu terasa seperti ucapan selamat tinggal.

Menjelang magrib, ia menyiapkan tripod untuk foto malam. Ia ingin memotret lampu-lampu peron yang kuning dengan teknik pajanan panjang, supaya cahayanya terlihat lembut dan langitnya gelap pekat. Aplikasi kamera di ponselnya punya mode malam yang bisa membuka rana sampai beberapa detik.

Pak Rahmat duduk di bangku dekat loket sambil mendengarkan radio kecil yang memutar campursari. Ia sesekali melirik ke arah Laksmi, lalu ke jam dinding, lalu kembali ke radionya.

Pukul sembilan kurang dua puluh, Laksmi masih memotret. Ia sudah mengambil lebih dari seratus foto. Ia mengarahkan ponsel ke rel dari ujung peron tiga, membidik ke arah lapangan rumput dengan sisa pondasi itu, karena di baliknya ada siluet pohon asam yang cantik terhadap langit.

Ia menekan tombol rana. Ponsel menghitung mundur: tiga, dua, satu. Rana terbuka lama, empat detik.

Di kejauhan, terdengar bunyi lonceng. Satu kali. Dentang logam yang bulat dan dalam, seperti lonceng tangan yang dulu dipakai petugas stasiun untuk tanda keberangkatan.

Laksmi menoleh. Lonceng besi di dekat ruang kepala stasiun tergantung diam, tidak bergerak.

Pak Rahmat sudah berdiri dari bangkunya. Radionya mati. Ia menatap ke arah lapangan rumput dengan wajah yang tidak bisa Laksmi baca.

"Mbak," katanya pelan, "sudah. Pulang sekarang."

"Sebentar, Pak, satu lagi..."

"Sekarang, Mbak."

Nada suaranya membuat Laksmi tidak membantah. Ia membereskan tripod dengan tergesa-gesa. Ojek yang sudah ia pesan datang lima menit kemudian, dan Pak Rahmat berdiri di gerbang stasiun sampai motor itu menghilang di tikungan.

Di kamar kosnya di Semarang, tengah malam, Laksmi memindahkan foto-foto ke laptop. Seratus tujuh belas foto. Ia menggulirnya cepat, menandai yang bagus.

Foto nomor 117 membuatnya berhenti.

Itu foto terakhir, yang ia ambil dari ujung peron tiga ke arah lapangan rumput. Tapi di foto itu, tidak ada lapangan rumput.

Yang ada adalah peron.

Peron keempat, lengkap dengan lantai tegel abu-abu, tiang-tiang besi hijau, dan tiga lampu gantung yang menyala kuning. Ada bangku kayu panjang. Ada papan kecil bertuliskan angka 4 dengan huruf yang sama seperti papan-papan peron lain. Dan ada orang-orang. Belasan orang, duduk dan berdiri, membawa keranjang, koper kulit, dan bungkusan kain. Pakaian mereka seperti di foto-foto lama milik neneknya: kemeja lengan pendek dengan kerah lebar, kebaya, celana cutbray.

Karena pajanan empat detik, sosok-sosok itu sedikit kabur, seolah mereka bergerak sangat pelan.

Kecuali satu.

Di ujung bangku, paling dekat dengan kamera, duduk seorang anak perempuan berseragam sekolah dasar, kemeja putih dan rok merah. Rambutnya dikepang dua. Ia tidak kabur sama sekali.

Ia menatap lurus ke kamera. Ke arah Laksmi.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Fotografi Ponsel

Kamera ponsel hari ini sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan foto yang memukau. Yang membedakan foto biasa dan foto yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah cara kamu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu