Episode 1 dari 1

Lima Ribu per Ban

Rantai Sepeda Abah · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Bengkel Abah Encep tidak punya papan nama. Yang ada hanya sebuah ban sepeda bekas yang digantung di tiang depan, dicat putih, dengan tulisan tangan berwarna merah: TAMBAL - SETEL - GANTI RANTAI. Bengkel itu berdiri di sebuah lorong kecil tidak jauh dari alun-alun Garut, terjepit di antara warung kopi dan tukang cukur rambut.

Fajar sudah tiga hari di sana dan sudah tiga hari ia bosan.

"Di sini sinyalnya kenapa jelek banget, Bah?" keluhnya sambil mengangkat ponsel tinggi-tinggi di depan pintu bengkel.

"Bengkel mah butuh tangan, bukan sinyal," jawab Abah tanpa menoleh. Ia sedang membongkar roda sepeda milik anak tetangga, jari-jarinya hitam oleh oli sampai ke kuku.

Fajar mendengus. Ibunya mengirimnya ke Garut selama libur karena ia dan ayahnya terus bertengkar di Bandung. Ayahnya baru pindah kerja dan pulang larut setiap malam, ibunya sedang hamil anak ketiga, dan Fajar dianggap terlalu sering main game. "Biar kamu belajar sesuatu dari Abah," kata ibunya di terminal. Fajar tidak tahu apa yang bisa ia pelajari dari laki-laki tujuh puluh tahun yang tidak punya televisi.

Satu-satunya hal yang membuat Fajar mau datang adalah janji ibunya: kalau ia pulang dengan kabar baik dari Abah, mereka akan mempertimbangkan sepeda baru. Sepeda gunung dengan suspensi depan dan gir belakang delapan tingkat, yang sudah ia simpan fotonya di ponsel sejak tiga bulan lalu. Harganya dua juta tiga ratus ribu. Fajar ingin membawanya ke lomba sepeda hias Hari Sumpah Pemuda di sekolahnya, dua minggu lagi.

"Bah," katanya, duduk di bangku plastik di sudut bengkel. "Ibu bilang, kalau aku dapat kabar baik dari Abah, aku boleh beli sepeda baru."

"Oh." Abah memutar roda pelan, mendengarkan bunyinya. "Kabar baik apa yang kamu mau?"

"Ya, apa saja. Bilang aku rajin, gitu."

"Kamu rajin?"

Fajar diam.

Abah meletakkan roda itu, mengelap tangan dengan kain lap yang sudah lebih hitam dari tangannya sendiri, lalu menatap cucunya. Mata Abah kecil dan dikelilingi kerutan, tapi tatapannya tajam seperti mata tukang yang sedang mencari kebocoran.

"Abah kasih kesepakatan," katanya. "Setiap ban yang kamu tambal sampai tidak bocor lagi, Abah bayar lima ribu. Uangnya kamu simpan sendiri. Terserah mau buat apa. Tapi kalau ban yang kamu tambal bocor lagi dalam seminggu, kamu ganti tambalannya pakai uangmu sendiri."

Fajar menghitung cepat di kepalanya. Dua juta tiga ratus ribu dibagi lima ribu. Empat ratus enam puluh ban.

"Bah, itu kebanyakan."

"Kalau kebanyakan, ya jangan." Abah kembali ke rodanya. "Abah tidak maksa."

Fajar menatap ponselnya, foto sepeda gunung itu, lalu menatap tumpukan ban dalam bekas yang digantung di dinding bengkel.

"Ajari aku," katanya akhirnya.


Menambal ban ternyata jauh lebih rumit dari yang Fajar kira.

Pertama, ban dalam harus dikeluarkan dari ban luar tanpa merobeknya. Abah mengajarinya memakai dua tuas besi kecil, menyelipkannya pelan di antara pelek dan ban, lalu mengungkit sedikit demi sedikit. Ban pertama yang Fajar coba sobek karena ia terlalu kuat menarik.

"Sabar," kata Abah. "Ban itu bukan musuh."

Kedua, kebocorannya harus dicari. Abah mengisi angin, lalu mencelupkan ban dalam ke ember air sedikit demi sedikit, memperhatikan gelembung kecil yang naik ke permukaan. Fajar butuh sepuluh menit untuk menemukan satu lubang yang Abah temukan dalam tiga detik.

Ketiga, permukaan di sekitar lubang harus diamplas, diolesi lem, ditunggu setengah kering, baru ditempel karet tambalan, lalu ditekan kuat-kuat. Fajar menempel terlalu cepat. Tambalannya bergelembung.

"Ulang," kata Abah.

Sampai sore, Fajar menyelesaikan tiga tambalan. Abah memeriksa ketiganya di ember air. Satu masih bocor.

"Dua," kata Abah, lalu mengambil dua lembar uang lima ribuan dari laci kayu dan meletakkannya di telapak tangan Fajar yang hitam oleh lem dan debu karet.

Sepuluh ribu rupiah. Fajar menatap uang itu. Di Bandung, sepuluh ribu habis untuk sekali beli minuman boba. Di sini, sepuluh ribu itu terasa berat, seperti batu kecil di telapak tangannya.

"Simpan di mana, Bah?"

Abah menunjuk rak di pojok bengkel. Di sana, di antara kaleng-kaleng berisi mur dan baut, ada kaleng bekas biskuit bergambar bunga yang catnya sudah mengelupas. "Pakai itu. Tulis di tutupnya, buat apa uangnya."

Fajar mengambil spidol dan menulis di tutup kaleng: SEPEDA BARU. TARGET: 2.300.000.

Lalu ia memasukkan dua lembar lima ribuan itu. Bunyinya pelan sekali, nyaris tidak terdengar.


Malam itu, saat Abah sudah tidur di kamar belakang, Fajar tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar di ruang depan bengkel, menatap langit-langit yang penuh sarang laba-laba, mendengar suara jangkrik dan sesekali motor lewat di lorong.

Di pojok bengkel, di balik rak kaleng, ada sesuatu yang selama tiga hari ini ia abaikan: sebuah benda besar yang ditutup kain batik cokelat yang sudah pudar. Bentuknya seperti sepeda.

Fajar bangun, menyalakan senter ponsel, dan berjalan pelan ke pojok itu. Ia menyibak kain penutupnya sedikit.

Sebuah sepeda ontel tua, berwarna hijau tua dengan garis emas tipis yang sudah memudar, berdiri di sana. Keranjang rotan di depannya masih utuh. Sadelnya dari kulit cokelat, retak-retak tapi bersih, seperti sering dilap. Bannya kempis. Dan rantainya, Fajar memperhatikan dengan senter, putus di tengah, menjuntai ke lantai seperti ekor yang patah.

Di setang sepeda itu tergantung sebuah gelang kecil dari manik-manik, warnanya merah dan putih.

"Itu punya Ambu."

Fajar hampir menjatuhkan ponselnya. Abah berdiri di ambang pintu kamar belakang, memakai sarung dan kaus oblong, wajahnya tidak terlihat jelas dalam gelap.

"Nenek?"

"Ambu naik sepeda itu ke pasar setiap pagi, empat puluh tahun." Abah melangkah pelan, berdiri di sebelah Fajar, menatap sepeda itu. "Rantainya putus seminggu sebelum dia meninggal. Belum sempat Abah ganti."

"Itu sudah tiga tahun, Bah."

"Iya."

"Kenapa tidak diganti? Abah kan tukang sepeda."

Abah tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, merapikan kembali kain batik yang tersibak, lalu berjalan kembali ke kamarnya.

Di ambang pintu, ia berhenti.

"Rantai ontel model begitu sudah tidak dijual di Garut," katanya tanpa menoleh. "Harus pesan dari Bandung. Harganya sekarang hampir dua ratus ribu."

Pintu kamar tertutup.

Fajar berdiri lama di depan sepeda yang terselubung kain itu. Lalu ia menoleh ke rak di pojok, ke kaleng biskuit bergambar bunga dengan tulisan SEPEDA BARU di tutupnya, yang isinya baru sepuluh ribu rupiah.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Keuangan Pribadi Gen Z

Tanggal 25 gajian, tanggal 10 sudah menghitung hari? Masalahnya hampir pasti bukan gaji yang terlalu kecil, melainkan uang yang keluar tanpa rencana. Buku ini menuntunmu menata keu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu