Tiga Opsi, Nol Jawaban
Dinda mengirim tiga opsi logo pada hari Selasa pukul 10.00, tepat seperti yang ia janjikan.
Opsi pertama: huruf sans-serif tipis, warna krem dan cokelat muda, sebuah lingkaran kecil seperti roti bundar. Persis seperti contoh kedai kopi Jakarta yang Raka sukai.
Opsi kedua: huruf serif tebal yang ramah, warna kulit roti yang ia cocokkan dari foto roti sobek, dan bentuk setengah lingkaran seperti matahari terbit. Pagi, pikirnya waktu menggambarnya.
Opsi ketiga: tulisan tangan yang ia rapikan sendiri, sedikit miring ke kanan, warna cokelat tua. Ia ragu memasukkannya. Opsi itu terlalu dekat dengan papan nama lama, dan Raka sudah bilang jangan tanya soal papan nama. Tetapi Dinda tidak bertanya. Ia hanya menggambar.
Ia menyusun ketiganya dalam satu PDF rapi, lengkap dengan contoh penerapan di kantong kertas, label harga, dan papan nama. Lalu ia menulis pesan pengantar yang sopan dan jelas:
"Mas Raka, ini tiga arah logo. Silakan pilih satu untuk dikembangkan. Revisi pertama bisa berupa perubahan warna, huruf, atau komposisi. Ditunggu masukannya paling lambat Kamis, ya."
Centang dua. Biru. Lalu sunyi.
Selasa siang, sunyi. Selasa malam, sunyi. Dinda mengerjakan proyek lain, menyetrika baju, membersihkan pasir kucing, dan memeriksa ponsel setiap tujuh menit seperti orang yang menunggu hasil ujian.
"Mungkin dia sibuk bikin roti," kata Tia di telepon. Tia sesama desainer lepas, teman kuliah Dinda, dan satu-satunya orang yang Dinda izinkan menertawakan kliennya. "Tukang roti tidurnya jam delapan malam, Din. Kamu tidurnya jam tiga pagi. Kalian hidup di zona waktu yang beda."
"Dia sudah baca, Tia. Centang biru."
"Berarti dia lagi mikir."
"Atau dia benci ketiganya."
"Atau dia lagi mikir sambil benci ketiganya."
Dinda melempar bantal ke Bolu. Bolu menghindar dengan tenang.
"Aturan nomor satu," lanjut Tia, "jangan kirim pesan susulan dalam dua puluh empat jam pertama. Nanti kelihatan panik."
"Aku memang panik."
"Klien tidak perlu tahu itu."
Dinda menutup aplikasi pesan, membukanya lagi, lalu menutupnya dengan tekad seorang biarawati.
Rabu pukul 02.13, ponsel Dinda berbunyi. Bukan pesan teks. Pesan suara. Dua menit empat puluh detik.
Dinda, yang baru saja selesai mengekspor revisi klinik gigi, memakai earphone dan menekan putar.
Ada suara mixer di latar belakang, lalu suara Raka, pelan dan agak serak.
"Mbak Dinda, maaf malam-malam. Saya sudah lihat. Yang pertama, bagus, rapi, tapi..." Jeda. Suara mixer. "Tapi seperti toko orang lain. Yang kedua..." Jeda lebih panjang. "Yang kedua jelas banget. Maksud saya, warnanya sudah betul. Itu warna jam lima. Tapi hurufnya terlalu percaya diri. Toko ini tidak sepercaya diri itu. Yang ketiga..."
Rekaman berhenti di situ. Detik ke-58. Sisanya hanya suara mixer, lalu suara oven dibuka, lalu Raka berbisik "aduh" ke sesuatu yang bukan Dinda, lalu rekaman selesai.
Dinda memutarnya lagi. Dan lagi.
Yang ketiga apa?
Ia mengetik: "Mas, pesan suaranya terpotong di bagian opsi ketiga."
Centang dua. Abu-abu. Raka sudah kembali ke dapur, atau tidur, atau keduanya.
Pukul 05.40, sebuah pesan teks masuk.
"Yg kedua jelek banget mbak tp warnanya pas"
Dinda, yang baru tidur dua jam, membaca pesan itu dengan satu mata terbuka dan langsung duduk tegak.
Jelek banget?
Ia membuka pesan suara tadi lagi. Yang kedua jelas banget. Bukan jelek. Jelas. Atau jelek? Ia memutarnya dengan volume penuh. Suara mixer menutupi separuh kata itu.
"Mas, yang kedua jelek atau jelas?" ketiknya.
Lima menit. Sepuluh menit.
"Jelas. Maaf typo. Tangan saya penuh adonan."
Dinda menjatuhkan diri ke kasur dan tertawa sampai Bolu pindah ke ruangan lain.
"Jadi kita kembangkan yang kedua?" tanyanya.
"Bisa. Tapi hurufnya jangan terlalu percaya diri. Dan warnanya tolong dicocokkan langsung. Di layar beda. Mbak bisa datang lagi? Besok jam lima."
"Mas, opsi ketiga gimana? Pesan suaranya terpotong."
Centang dua. Biru.
Lalu tidak ada balasan untuk pertanyaan itu. Sama sekali.
Kamis pukul 04.55, Dinda kembali duduk di kursi rotan yang berderit. Kali ini ia membawa kartu warna cetak, dua puluh tingkat cokelat dan oranye dari percetakan langganannya. Kalau Raka mau warna jam lima pagi, ia akan mencocokkannya dengan roti jam lima pagi.
Raka keluar membawa nampan roti sobek. Dinda menempelkan kartu warna satu per satu ke kulit roti di bawah lampu toko.
"Ini?"
"Terlalu gelap."
"Ini?"
"Terlalu kuning. Seperti roti pabrik."
"Ini?"
Raka mencondongkan badan. Mereka berdua menatap kartu warna nomor 14 dan kulit roti yang masih mengepulkan uap, kepala mereka hanya sejengkal berjarak. Dinda bisa mencium bau tepung dan sabun dari celemek Raka.
"Itu," kata Raka pelan. "Itu warnanya."
Dinda melingkari nomor 14 dengan pensil. Ketika ia mengangkat wajah, Raka sudah mundur dua langkah, seperti baru menyadari jaraknya.
"Saya ambil teh," katanya, terlalu cepat.
Selagi Raka di dapur, pintu samping toko terbuka. Seorang perempuan muda masuk membawa map plastik tebal. Rambutnya diikat asal, kemejanya kantoran, dan wajahnya mirip Raka versi yang lebih sering tersenyum.
"Oh, ada tamu," katanya. "Mbak yang bikin logo, ya? Aku Mira, adiknya Mas Raka."
"Dinda."
Mira meletakkan mapnya di meja kasir. Map itu terbuka sedikit, dan Dinda tidak sengaja membaca judul dokumen paling atas, dicetak tebal: Rancangan Perjanjian Jual Beli Bangunan dan Usaha.
Mira melihat arah pandang Dinda, lalu dengan tenang menutup mapnya.
"Mas Raka sudah cerita, kan?" tanyanya pelan. "Soal akhir bulan."
Dinda menggeleng.
Mira menghela napas, panjang dan lelah. "Tentu saja belum."
Dari dapur, Raka keluar membawa dua gelas teh. Ia melihat Mira, lalu map di meja, lalu Dinda. Teh di tangannya bergoyang sedikit.
"Mir," katanya. "Kamu datang kepagian."
"Kamu yang telat cerita, Mas," jawab Mira.
Dinda menatap kartu warna nomor 14 di tangannya, lalu papan nama kayu di luar jendela, lalu kakak-beradik yang saling menatap tanpa bicara.
Ia baru sadar: logo ini bukan untuk toko yang mau tumbuh. Logo ini untuk toko yang mau diselamatkan.