Payung Daeng Sanna
Daeng Sanna sudah berjualan pisang epe di Pantai Losari sejak anaknya yang sulung masih bisa digendong. Sekarang anak itu sudah punya anak sendiri, dan Daeng Sanna masih di tempat yang sama: di bawah payung besar bergaris merah putih, di depan arang yang menyala, dengan alat penjepit kayu yang permukaannya licin karena puluhan tahun dipakai.
Setiap sore, sebelum matahari turun ke Selat Makassar, ia menyusun pisang kepok yang setengah matang di atas bara. Setelah layu, pisang itu dijepit sampai pipih, lalu dibakar lagi dan disiram gula merah cair. Ada yang minta rasa durian, ada yang minta keju. Daeng Sanna melayani semuanya, tapi diam-diam ia tetap percaya bahwa pisang epe paling enak adalah yang hanya pakai gula merah, seperti buatan almarhumah ibunya.
Sore itu, langit mendung. Pengunjung sedikit. Daeng Sanna duduk di bangku plastiknya sambil mengipasi arang, ketika seorang anak perempuan berseragam SMA berlari ke arahnya dan berdiri di bawah payung.
"Maaf, Daeng. Boleh numpang berteduh? Hujan mau turun."
Benar saja. Beberapa detik kemudian, hujan jatuh seperti ditumpahkan dari ember. Anak itu merapat ke tiang payung, memeluk tas sekolahnya yang tampak berat.
"Duduk mi," kata Daeng Sanna, menyodorkan bangku plastik kedua. "Siapa namamu?"
"Nurul, Daeng."
"Rumahmu di mana?"
"Di Mariso. Tadi mau naik pete-pete, tapi uangnya kurang."
Daeng Sanna melirik sepatu anak itu. Ujungnya sudah menganga. Tas sekolahnya dijahit tangan di beberapa bagian. Ia tidak bertanya lagi.
Hujan tidak berhenti selama hampir satu jam. Di bawah payung yang bocor di satu sudut, Daeng Sanna membakar dua potong pisang epe dan menyodorkannya kepada Nurul.
"Saya tidak punya uang, Daeng."
"Siapa yang minta uang? Itu pisang yang gosong sedikit. Tidak bisa dijual."
Nurul memandangi pisang itu. Tidak ada yang gosong. Ia tahu, dan Daeng Sanna tahu ia tahu. Tapi Nurul makan juga, pelan-pelan, seperti takut pisang itu habis terlalu cepat.
"Enak, Daeng. Manisnya beda."
"Gula merah dari Malino," kata Daeng Sanna bangga. "Saya tidak mau pakai gula pasir. Ibu saya bilang, pisang epe itu harus jujur. Manisnya dari gula aren, bukan dari yang pura-pura."
Nurul tertawa kecil. Lalu ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. Di sampulnya tertulis, dengan huruf rapi: Tugas Kewirausahaan.
"Daeng, boleh saya tanya-tanya? Saya ada tugas wawancara pedagang. Teman-teman sudah semua, tinggal saya. Saya malu mau tanya orang."
Daeng Sanna tertawa sampai bahunya berguncang. "Tanya mi. Tapi saya tidak sekolah tinggi, jawaban saya mungkin tidak pintar."
Maka di bawah hujan, Nurul bertanya, dan Daeng Sanna bercerita. Tentang modal pertamanya: lima sisir pisang dan arang pinjaman tetangga. Tentang tahun-tahun ketika pantai ini belum serapi sekarang. Tentang hari ketika gerobaknya digusur dan ia harus mulai dari nol. Tentang cara menghitung untung yang ia pelajari sendiri, dengan batu kerikil di dalam kaleng: satu batu untuk satu porsi terjual.
"Jadi Daeng tidak pakai buku catatan?"
"Dulu tidak. Sekarang cucu saya yang catat di HP. Katanya biar tahu hari apa paling laku."
"Hari apa, Daeng?"
"Malam Minggu," jawab Daeng Sanna. "Dan hari hujan. Orang berteduh, terus lapar."
Nurul menulis semuanya. Tulisannya cepat dan rapi.
"Daeng, pertanyaan terakhir," katanya kemudian. "Kenapa Daeng tidak pindah jualan ke tempat yang lebih ramai? Ke mal, misalnya?"
Daeng Sanna memandang laut. Ombak kecil memecah di tanggul, lampu-lampu kapal mulai menyala di kejauhan.
"Karena pisang epe itu harus dimakan sambil lihat matahari tenggelam," katanya. "Kalau dimakan di mal, rasanya cuma pisang dan gula. Di sini, rasanya pisang, gula, angin, dan langit. Yang terakhir itu tidak bisa saya jual, tapi orang datang karena itu."
Nurul berhenti menulis. Ia memandang laut juga, lama, seperti baru pertama kali melihatnya.
Ketika hujan reda, langit di atas Losari berubah jingga dan ungu. Pengunjung mulai berdatangan lagi. Nurul berdiri dan menyalami tangan Daeng Sanna dengan sopan.
"Terima kasih, Daeng. Nanti kalau nilai saya bagus, saya ke sini lagi."
"Kalau nilaimu jelek, ke sini juga," kata Daeng Sanna. "Pisang epe tidak lihat nilai."
Daeng Sanna memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku seragam anak itu sebelum Nurul sempat menolak. "Itu ongkos pete-pete. Bukan sedekah. Itu bayaran wawancara. Orang pintar di TV kalau diwawancara dibayar, kan? Saya bayar terbalik saja."
Nurul tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi. Ia berlari ke jalan, melambai dari kejauhan.
Daeng Sanna kembali mengipasi arang. Cucunya menelepon, bertanya apakah hari ini ramai. "Sepi," jawab Daeng Sanna. "Tapi tadi ada yang wawancara saya." Cucunya tertawa tidak percaya, dan Daeng Sanna membiarkannya.
Tiga minggu kemudian, pada hari Sabtu sore, Daeng Sanna sedang membakar pisang ketika seorang perempuan paruh baya datang dengan Nurul di sampingnya.
"Daeng, ini mama saya."
Perempuan itu menyalami Daeng Sanna dan menyerahkan sebuah map plastik. Di dalamnya ada kertas tugas Nurul, dengan angka besar tertulis dengan tinta merah di sudut kanan atas: 95. Di bawahnya ada catatan guru: Wawancara paling hidup di kelas. Narasumbermu orang hebat.
"Nurul cerita terus tentang Daeng," kata ibunya. "Saya jahit, Daeng. Ini saya buatkan."
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik besar: sebuah payung kain baru, bergaris merah putih seperti yang lama, tapi jahitannya rapat dan rapi. Di salah satu sisinya, dijahit dengan benang emas, tertulis: Pisang Epe Daeng Sanna. Manisnya Jujur.
Daeng Sanna tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap tulisan itu, lalu menatap Nurul, lalu menatap payung lamanya yang bocor di satu sudut.
"Yang lama jangan dibuang, Daeng," kata Nurul cepat. "Itu payung yang menyelamatkan saya dari hujan."
Sore itu, untuk pertama kalinya, Daeng Sanna membuka dua payung sekaligus. Yang baru untuk pembeli. Yang lama ia pasang di samping, di atas dua bangku plastik kosong, dengan sebuah papan kardus kecil bertuliskan tangan:
Tempat berteduh. Gratis. Pisang epe gosong juga gratis.
Tentu saja, tidak ada pisang yang benar-benar gosong. Tapi setiap kali hujan turun di Losari, selalu ada anak sekolah yang duduk di sana.