Episode 1 dari 1

Daftar Titipan Bu Ratna

Titipan di Dek Empat · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Daftar itu ditulis tangan di buku tulis bersampul batik, dan Bu Ratna membacanya sekali lagi di bawah lampu ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Perak, meski ia sudah hafal isinya.

Sambal bawang tiga toples untuk Mama Ece di Batu Merah. Dua lusin kerudung untuk Bu Haji Nurlela, warna-warna pastel, jangan yang terlalu terang. Obat salep kulit untuk Om Ferdi, merek yang sama seperti biasa, jangan diganti. Seragam sekolah ukuran 12 untuk Pance. Bumbu rawon instan sepuluh bungkus untuk Mbak Yuli, orang Lamongan yang sudah dua puluh tahun di Ambon dan katanya rindu rawon setiap Jumat. Sepasang sepatu bola untuk Rio, nomor 39, warna apa saja asal bukan pink.

Dan nomor dua puluh tiga, ditulis dengan tinta merah dan digarisbawahi dua kali: Kebaya pengantin Nona Ita. Tas biru. Jangan sampai basah. Jangan sampai lecek. Sabtu menikah.

Bu Ratna menutup buku itu dan menepuk tas kain biru di pangkuannya. Kebaya putih gading dengan payet kecil di leher, dijahit selama dua bulan oleh penjahit langganannya di Pasar Atom berdasarkan ukuran yang dikirim lewat foto dan pesan suara. Mama Lies, ibunya Ita, sudah membayar uang muka sejak Juni. Kalau kebaya ini tidak sampai, tidak ada toko di Ambon yang bisa membuat penggantinya dalam tiga hari.

"Ibu Ratna! Masih jualan juga?"

Ia menoleh. Seorang lelaki berseragam awak kapal berjalan mendekat, tersenyum lebar. Arman, anak muda dari Buton yang sudah tiga tahun bekerja di kapal ini. Bu Ratna mengenalnya sejak ia masih jadi kelasi baru yang mabuk laut di pelayaran pertamanya.

"Bukan jualan, Man. Titipan. Beda."

"Bedanya apa, Bu?"

"Kalau jualan, barangnya punya saya. Kalau titipan, barangnya punya orang, saya cuma dipercaya." Bu Ratna menepuk tas biru lagi. "Dipercaya itu lebih berat dari barang."

Arman tertawa dan membantu mengangkat dua karung besar berisi titipan ke jalur naik penumpang.


Kapal itu besar, putih, dengan cerobong berwarna merah. Bagi Bu Ratna yang sudah ratusan kali naik, kapal ini sudah seperti kos-kosan yang berpindah-pindah. Ia tahu tangga mana yang paling sepi, kamar mandi mana yang airnya paling deras, dan sudut mana di dek ekonomi yang paling dekat dengan colokan listrik.

Tempat tidurnya di dek empat, nomor yang sama yang selalu ia minta. Ranjang besi bersusun dua dengan kasur tipis, berderet panjang di ruangan besar yang berbau campuran minyak kayu putih, mi instan, dan laut. Di sebelah kirinya seorang ibu muda dengan dua anak kecil. Di sebelah kanannya seorang kakek yang langsung tertidur sebelum kapal berangkat.

Bu Ratna menata karung titipan di bawah ranjang, mengikat tas-tas kecil ke tiang besi dengan tali rafia, dan memeluk tas biru di atas kasur. Kebaya itu tidak boleh ditaruh di bawah. Lantai dek kadang basah oleh tumpahan teh, kadang oleh hal-hal yang lebih buruk kalau laut sedang tidak bersahabat.

Kapal mengeluarkan bunyi panjang yang menggetarkan dada. Pelan-pelan, pelabuhan mulai menjauh.

Ibu muda di sebelahnya menatap tas biru itu. "Isinya apa, Bu? Dipeluk terus."

"Kebaya pengantin. Titipan."

"Wah. Siapa yang menikah?"

"Anak Mama Lies di Ambon. Nona Ita. Sabtu ini." Bu Ratna tersenyum. "Saya kenal Ita sejak dia masih SD. Dulu dia nitip pensil warna, sekarang nitip kebaya pengantin. Waktu cepat sekali."

Ibu muda itu ikut tersenyum, lalu kembali mengurus anaknya yang mulai merengek.


Malam pertama di laut selalu yang paling panjang. Bu Ratna naik ke dek terbuka untuk menghirup udara. Angin kencang dan asin, langit penuh bintang yang tidak pernah terlihat di Surabaya. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkelip seperti kota kecil yang mengapung.

Arman muncul membawa dua gelas kopi sachet dari kantin.

"Ibu nggak bosan bolak-balik begini?"

"Bosan. Capek. Pinggang sakit." Bu Ratna menerima kopi itu. "Tapi kamu tahu nggak, Man, rasanya waktu Mbak Yuli buka bungkus bumbu rawon, terus nangis karena baunya seperti dapur ibunya di Lamongan? Atau waktu Rio pakai sepatu bola baru dan langsung lari keliling halaman?"

Arman menggeleng.

"Saya bukan cuma bawa barang. Saya bawa rindu orang. Dari satu pulau ke pulau lain." Ia menyeruput kopi. "Kalau bukan saya, siapa lagi yang mau bawa sambal tiga toples naik kapal tiga hari?"

Arman tertawa. "Ibu ini bisa jadi motivator."

"Motivator tidak bawa sambal."

Mereka tertawa bersama, dan angin membawa tawa itu ke belakang kapal, ke arah buih putih yang memanjang di laut gelap.


Esok paginya, ketika Bu Ratna terbangun, kapal sudah mendekati Makassar. Pengumuman berbunyi: kapal akan bersandar dua jam di Pelabuhan Soekarno-Hatta. Penumpang yang turun di Makassar dipersilakan bersiap.

Dek empat berubah menjadi lautan manusia. Orang-orang menarik karung, menggendong anak, berteriak memanggil keluarga. Buruh angkut pelabuhan naik ke kapal dengan kecepatan luar biasa, menawarkan jasa, mengangkat barang tanpa ditanya.

Bu Ratna turun dari ranjang untuk ke kamar mandi. Hanya lima menit. Ia menitipkan tas biru kepada ibu muda di sebelahnya. "Titip sebentar, ya, Dik."

"Iya, Bu."

Ketika ia kembali, ibu muda itu sedang sibuk menenangkan anaknya yang menangis karena terdorong orang. Ranjang Bu Ratna penuh tas dan karung orang lain yang ditaruh sembarangan oleh buruh angkut. Bu Ratna menyingkirkannya satu per satu.

Lalu ia berhenti.

Tas biru yang ada di atas kasurnya bukan tas birunya. Warnanya sama, ukurannya sama, tetapi talinya berbeda. Ia membukanya dengan tangan gemetar.

Isinya kain sarung dan beberapa kotak kue.

Bu Ratna berdiri di tengah dek empat yang riuh, memegang tas milik orang lain, dan merasakan dunia di sekitarnya mendadak sunyi.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Jastip: Jasa Titip Modal Kecil

Jastip bisa dimulai tanpa menyetok barang: uang belanja datang dari pemesan, dan penghasilanmu adalah fee titip. Tetapi tanpa aturan yang jelas, jastip mudah berujung drama, dari b...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu