Episode 1 dari 3

Lampu Kuning di Gang Basah

Warung yang Datang Bersama Hujan · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Hujan di Bandung tidak pernah memberi aba-aba. Pukul empat sore langit masih terang, pukul empat lewat sepuluh air sudah turun seperti ditumpahkan dari ember raksasa.

Galih menepikan motornya di bawah pohon ketapang di ujung Jalan Cikapundung. Di boks belakang masih ada sembilan paket. Jas hujannya robek di bagian ketiak, dan air sudah merembes sampai ke kaus. Ponselnya bergetar terus. Aplikasi pengiriman menampilkan angka merah: tiga paket terlambat.

"Sabar, sabar," gumamnya, entah kepada siapa.

Ia hendak menyalakan motor lagi ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak masuk akal. Di antara dua tembok rumah tua, ada gang selebar badan motor. Galih sudah lewat jalan ini ratusan kali. Ia yakin di situ dulu hanya ada tembok berlumut. Tapi sekarang ada gang, dan di ujung gang ada lampu kuning yang bergoyang pelan.

Lampu itu menerangi papan kayu kecil bertuliskan cat putih yang mulai mengelupas: Warung Mbok Sum. Buka Kalau Hujan.

Galih tertawa kecil. Pasti tulisan iseng. Tapi perutnya berbunyi keras, dan ia belum makan sejak pagi. Ia mendorong motornya masuk.


Warung itu hanya punya satu meja panjang dari kayu jati yang sudah licin, empat bangku, dan dapur terbuka dengan tungku tanah liat. Asap tipis naik dari panci besar. Bau kencur, daun jeruk, dan bawang goreng menyergap hidung Galih begitu ia melepas helm.

Di balik tungku berdiri seorang perempuan tua bertubuh kecil, rambutnya disanggul rapi, kebaya lurik cokelatnya ditutup celemek bermotif bunga yang warnanya sudah pudar. Ia tidak menoleh.

"Duduk, Cep. Bajunya diperas dulu di luar, kasihan lantainya."

Galih menurut. Ia memeras ujung kausnya di depan pintu, lalu duduk di bangku paling dekat tungku. Hangat api menjalar ke telapak tangannya yang keriput karena air.

Ia memandang sekeliling. Di dinding tergantung kalender bergambar pemandangan sawah yang tahunnya tidak bisa ia baca karena tertutup noda minyak. Ada radio transistor tua di rak, mati. Ada deretan stoples kaca berisi kerupuk, emping, dan kacang bawang. Semua terlihat bersih tetapi tua, seperti warung yang dirawat dengan sabar selama puluhan tahun.

"Menunya apa, Bu?"

"Mbok," perempuan itu membetulkan. "Di sini tidak ada menu. Mbok masak yang kamu butuhkan."

"Saya butuh yang cepat, Mbok. Paket saya masih sembilan."

Mbok Sum akhirnya menoleh. Wajahnya penuh kerut, tetapi matanya jernih seperti air sumur pagi. Ia memandang Galih agak lama, seolah membaca tulisan kecil di dahinya.

"Paketmu tidak akan basah. Hujan di luar sana menunggu kamu selesai makan."

Galih tidak tahu harus tertawa atau takut. Ia memilih diam.


Mbok Sum mengambil nasi dari bakul anyaman, nasi yang masih mengepul, lalu menumbuknya pelan di cobek batu bersama oncom bakar yang sudah dihancurkan. Ia menambahkan kencur, cabai rawit, garam, dan sedikit gula merah. Bunyi ulekan beradu dengan batu terdengar berirama, berpadu dengan suara hujan di atap seng.

Nasi itu ia bentuk bulat, dibungkus daun pisang, lalu diletakkan di atas bara sebentar. Daun pisang mengerut, harum hangusnya bercampur dengan wangi oncom. Di samping nasi, Mbok Sum menata ikan asin peda goreng, lalapan daun kemangi dan mentimun, sepotong tempe goreng, dan sambal terasi di cobek kecil.

"Nasi tutug oncom," katanya sambil menyorongkan piring. "Makan pakai tangan."

Galih membuka daun pisang. Uap naik ke wajahnya. Suapan pertama terasa gurih, sedikit pedas, dan ada rasa asam samar dari oncom yang dibakar. Suapan kedua membuat tangannya berhenti di udara.

Ia tiba-tiba berada di dapur lain.

Dapur berlantai tanah di Garut. Seorang nenek berkerudung putih menumbuk nasi di cobek yang sama besarnya dengan cobek Mbok Sum. Galih kecil, umur tujuh tahun, duduk di dingklik sambil memegangi perutnya.

"Nini, Galih mau yang banyak oncomnya."

"Iya, iya. Nanti kalau sudah besar, Galih yang masakin Nini, ya. Janji?"

"Janji!"

Kenangan itu begitu jelas sampai Galih bisa mencium bau kayu bakar dan mendengar ayam berkokok di belakang rumah. Ia ingat kelingking kecilnya bertaut dengan kelingking keriput neneknya. Ia ingat janji itu. Janji yang selama dua puluh tahun tidak pernah ia ingat lagi.

Ketika ia kembali ke warung, matanya basah. Bukan karena sambal.

"Nini saya masih hidup, Mbok," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Di Garut. Sudah tiga Lebaran saya tidak pulang. Selalu ada alasan. Lembur, ongkos, capek."

Mbok Sum mengangguk, seolah sudah tahu.

"Kenangan itu tidak hilang, Cep. Cuma tertimbun. Kadang perlu dicari pakai lidah."


Galih menghabiskan nasinya sampai butir terakhir. Ketika ia meraih dompet, Mbok Sum menggeleng.

"Bayarnya nanti."

"Nanti kapan, Mbok?"

"Kalau kamu sudah menepati janji yang tadi."

Galih menatap perempuan tua itu. Ia ingin bertanya bagaimana Mbok Sum tahu soal janji itu, tetapi suara hujan di luar mulai mereda. Mbok Sum menoleh ke pintu, raut wajahnya berubah sedikit sendu.

"Pergilah sebelum reda. Kalau hujannya berhenti, kamu tidak akan bisa keluar dengan cara yang sama."

Galih tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia memakai helm dan mendorong motornya keluar gang. Begitu roda belakang menyentuh trotoar Jalan Cikapundung, hujan berhenti total. Ia menoleh.

Gang itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya tembok berlumut dan tetesan air dari talang.

Galih berdiri lama di sana. Ponselnya bergetar. Ia membuka aplikasi pengiriman dan mengernyit. Sembilan paket di boks belakang masih kering sempurna, padahal tutup boksnya retak. Dan angka merah di layar sudah berubah hijau: tidak ada yang terlambat.


Malam itu, setelah paket terakhir sampai di tangan penerimanya, Galih duduk di kamar kosnya yang sempit. Ia membuka aplikasi tiket bus dan memesan satu kursi ke Garut untuk hari Minggu.

Lalu ia mengetik pesan kepada nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.

Nini, Minggu Galih pulang. Nini mau dimasakin apa?

Ia baru akan menaruh ponsel ketika matanya menangkap sesuatu di saku jaketnya. Selembar daun pisang kecil, terlipat rapi. Di dalamnya ada secarik kertas cokelat dengan tulisan tangan miring:

Tutug oncom: nasi panas, oncom dibakar sampai harum, kencur sedikit saja. Jangan lupa, nenekmu suka yang tidak terlalu pedas.

Di bawahnya ada satu kalimat lagi, dengan tinta yang lebih tebal:

Kalau hujan, mampirlah. Mbok butuh bantuan.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Resep Rumahan Nusantara

Masakan rumahan yang enak tidak harus rumit. Kuncinya ada pada bumbu dasar yang tepat dan takaran yang jelas. Buku ini mengumpulkan 18 resep sehari-hari ditambah tiga bumbu dasar d...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu