Cara Menentukan Tarif Freelance: Hitungan per Jam dan Proyek
Bingung pasang tarif freelance? Hitung dari kebutuhan hidup, biaya kerja, dan jam yang bisa ditagih. Lengkap dengan contoh tarif per jam, proyek, dan paket bulanan.
"Berapa ya tarif yang pantas?" adalah pertanyaan yang hampir pasti muncul di awal karier freelance. Banyak yang akhirnya asal menyamakan dengan orang lain, atau sengaja memasang tarif rendah agar cepat dapat klien. Hasilnya, kerja sampai lembur tapi penghasilan tetap pas-pasan. Tarif yang sehat sebaiknya dihitung, bukan ditebak. Berikut caranya, langkah demi langkah dengan angka.
Hitung kebutuhan pendapatan dan biaya kerja
Mulai dari angka yang kamu butuhkan untuk hidup dan menabung. Misalnya kebutuhan bulananmu Rp6.000.000. Masukkan makan, transportasi, cicilan, tabungan, dan dana darurat. Jangan memakai angka gaji lamamu begitu saja, karena freelancer tidak punya tunjangan dan cuti berbayar. Kalau sakit atau libur, tidak ada penghasilan masuk, jadi kebutuhan itu harus tertutup oleh tarifmu sendiri.
Lalu tambahkan biaya kerja. Freelancer menanggung sendiri biaya yang biasanya ditanggung kantor:
| Biaya kerja per bulan | Jumlah |
|---|---|
| Internet dan pulsa | Rp350.000 |
| Langganan aplikasi atau software | Rp200.000 |
| Listrik tambahan dan perawatan laptop | Rp150.000 |
| Total | Rp700.000 |
Total yang harus dihasilkan: Rp6.000.000 + Rp700.000 = Rp6.700.000 per bulan.
Hitung jam yang bisa ditagih
Tidak semua jam kerja dibayar klien. Sebagian waktu habis untuk mencari klien, membalas pesan, mengurus tagihan, dan belajar. Misalnya kamu bekerja 20 hari sebulan, dan setiap hari hanya 4 jam yang benar-benar untuk proyek:
20 hari × 4 jam = 80 jam yang bisa ditagih per bulan.
Kesalahan paling umum adalah menghitung 8 jam sehari sebagai jam yang dibayar. Kenyataannya, jam yang bisa ditagih jarang lebih dari setengah jam kerja.
Hitung tarif dasar per jam
Rp6.700.000 ÷ 80 jam = Rp83.750 per jam.
Tambahkan cadangan sekitar 15% untuk pajak, bulan sepi proyek, dan revisi yang tidak terduga:
Rp83.750 × 1,15 = Rp96.312,50, dibulatkan menjadi Rp95.000 sampai Rp100.000 per jam.
Angka ini adalah batas bawah agar kebutuhanmu terpenuhi. Jika keahlianmu langka atau hasilnya berdampak besar bagi klien, tarif bisa lebih tinggi. Kalau jam yang bisa ditagih ternyata hanya 60 jam, hitungannya berubah: Rp6.700.000 ÷ 60 = Rp111.667 per jam sebelum cadangan. Karena itu, catat jam kerjamu sendiri selama satu bulan agar angkanya nyata.
Ingin lebih dalam? Artikel ini baru membahas sebagian kecil. Di ebook Freelance dari Nol: Klien Pertama, kamu akan mempelajari lebih jauh:
- Memilih satu jasa yang laku untuk satu jenis klien, dari penulisan sampai web sederhana
- Membangun portofolio dari proyek latihan dan menulis studi kasus singkat
- Profil di platform freelance lokal dan global, plus jalur jejaring, komunitas, dan email perkenalan
Semua langkahnya disusun berurutan dan bisa langsung dipraktikkan. Lihat isi bukunya.
Ubah tarif per jam menjadi harga proyek
Klien biasanya lebih suka harga per proyek karena biayanya pasti. Caranya:
- Perkirakan jam kerja, misalnya desain logo butuh sekitar 10 jam (riset, sketsa, desain, revisi, finalisasi).
- Kalikan dengan tarif per jam: 10 × Rp95.000 = Rp950.000.
- Tambahkan cadangan revisi 20%: Rp950.000 × 1,2 = Rp1.140.000.
- Bulatkan ke atas ke kelipatan Rp50.000 menjadi harga penawaran: Rp1.150.000.
Dengan cara itu kamu bisa menyusun daftar harga sederhana untuk dipasang di portofolio atau dikirim saat klien bertanya:
| Layanan | Perkiraan jam | Harga |
|---|---|---|
| Desain logo (2 alternatif, 2 kali revisi) | 10 jam | Rp1.150.000 |
| Desain 9 feed Instagram | 6 jam | Rp700.000 |
| Edit 4 video pendek | 8 jam | Rp950.000 |
Semua harga memakai cara yang sama: jam × Rp95.000 × 1,2, lalu dibulatkan ke atas ke kelipatan Rp50.000. Contohnya feed: 6 × Rp95.000 × 1,2 = Rp684.000, menjadi Rp700.000. Untuk video: 8 × Rp95.000 × 1,2 = Rp912.000, menjadi Rp950.000.
Tawarkan paket bulanan
Untuk pekerjaan rutin seperti mengelola media sosial atau membuat konten setiap minggu, tawarkan paket bulanan. Hitung jam per bulan, kalikan tarif, lalu beri potongan kecil sebagai imbalan kepastian kerja. Contoh: 12 jam × Rp95.000 = Rp1.140.000, ditawarkan Rp1.050.000 per bulan dengan kontrak minimal tiga bulan. Klien menghemat Rp90.000 per bulan, kamu mendapat pemasukan yang lebih pasti.
Kapan menaikkan tarif dan menyisihkan pajak
Tanda tarif sudah layak naik:
- Jadwalmu sudah penuh beberapa minggu ke depan.
- Klien jarang menawar dan langsung setuju.
- Portofolio dan testimoni bertambah.
- Keahlianmu meningkat, misalnya bisa mengerjakan lebih cepat atau lebih lengkap.
Naikkan tarif untuk klien baru lebih dulu. Untuk klien lama, beri pemberitahuan beberapa minggu sebelumnya. Kenaikan 10 sampai 15% biasanya lebih mudah diterima daripada lompatan besar. Contoh: dari Rp95.000 menjadi Rp105.000 per jam, atau naik sekitar 10,5%, sudah memberi tambahan Rp10.000 untuk tiap jam yang ditagih.
Soal pajak, penghasilan freelance tidak dipotong otomatis seperti gaji karyawan. Sisihkan sebagian dari setiap pembayaran untuk pajak dan dana darurat di rekening terpisah. Besarnya kewajiban pajak bergantung pada status dan jumlah penghasilanmu, serta aturannya bisa berubah, jadi pelajari dari sumber resmi atau tanyakan ke konsultan pajak agar tidak kaget di akhir tahun.
Tulis penawaran yang jelas
Cara menyampaikan harga sama pentingnya dengan angkanya. Contoh penawaran:
"Untuk desain logo Dapur Rina, berikut rinciannya: riset singkat, 2 alternatif desain, 2 kali revisi, dan file akhir dalam format siap cetak dan siap unggah. Harga Rp1.150.000, uang muka 50% di awal. Pengerjaan 7 hari kerja setelah uang muka diterima."
Penawaran ini menjawab pertanyaan klien sebelum ditanyakan: apa yang didapat, berapa kali revisi, berapa lama, dan bagaimana pembayarannya. Klien yang membandingkan beberapa freelancer cenderung memilih yang paling jelas, bukan selalu yang paling murah.
Kesalahan umum soal tarif
- Meniru tarif orang lain tanpa menghitung kebutuhan sendiri.
- Menghitung 8 jam sehari sebagai jam tertagih.
- Tidak membatasi jumlah revisi.
- Memberi diskon langsung saat ditawar, padahal lebih baik mengurangi lingkup.
- Lupa menaikkan tarif setelah portofolio berkembang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Lebih baik tarif per jam atau per proyek? Per proyek lebih disukai klien karena biayanya pasti. Tarif per jam tetap berguna sebagai dasar menghitung harga proyek.
Bagaimana jika klien menawar terlalu rendah? Tawarkan pengurangan lingkup pekerjaan, bukan pengurangan harga untuk pekerjaan yang sama. Misalnya 6 feed alih-alih 9 feed.
Apakah tarif pemula harus murah? Boleh sedikit lebih rendah untuk membangun portofolio, tetapi tetap di atas batas bawah hasil perhitunganmu agar kerja keras tetap sepadan.
Kalau artikel ini membantu, langkah berikutnya ada di ebook Freelance dari Nol: Klien Pertama.
Pelajari sampai tuntas di “Freelance dari Nol: Klien Pertama”
Banyak pemula berhenti setelah lima penawaran pertamanya tidak dibalas. Masalahnya jarang soal kemampuan: jasanya terlalu umum, portofolionya tidak menjawab kebutuhan klien, dan pe...