Hitung Kupon Bersih SBN Ritel Setelah Pajak dan Bandingkan
Kupon SBN ritel dipotong pajak final sebelum masuk rekening. Hitung kupon bulanan bersih dan bandingkan dengan bunga deposito lewat contoh angka.
Kamu melihat tulisan "kupon 6 persen" di iklan SBN ritel dan langsung membayangkan uang masuk sebesar itu setiap tahun. Padahal angka itu belum dikurangi pajak, dan tidak semua kupon bersifat tetap. Kalau tidak dihitung dulu, kamu bisa kaget saat melihat saldo. Mari kita hitung bersama, dengan angka rekaan yang mudah diikuti.
Kupon itu apa
Kupon adalah imbal hasil yang dibayarkan pemerintah kepada pemegang surat utang, biasanya setiap bulan. Besarnya dinyatakan sebagai persentase per tahun dari nilai investasimu. Pada sukuk, imbal hasil ini bisa disebut imbalan, tapi cara menghitungnya serupa.
Ada dua keluarga kupon. Kupon tetap besarnya sama sampai jatuh tempo. Kupon mengambang bisa berubah mengikuti suku bunga acuan dengan batas minimal yang ditetapkan sejak awal. Karena itu, angka dalam artikel ini hanyalah contoh. Selalu lihat ketentuan seri yang sedang ditawarkan.
Rumus kupon bulanan bersih
Pajak penghasilan atas kupon SBN bersifat final dengan tarif 10 persen. Artinya, pemerintah memotongnya langsung dan kamu tidak perlu melaporkan ulang sebagai penghasilan kena pajak progresif. Rumusnya:
Kupon bersih per bulan = (Nilai investasi x kupon per tahun x 90%) ÷ 12
Jika tarif pajak berubah di masa depan, ganti angka 90 persen dengan sisa setelah pajak yang baru.
Contoh hitungan: Rp10 juta
Misalkan kamu membeli SBN Rp10.000.000 dengan kupon contoh 6 persen per tahun.
- Kupon kotor setahun: 6% x Rp10.000.000 = Rp600.000.
- Pajak final 10%: Rp60.000.
- Kupon bersih setahun: Rp600.000 - Rp60.000 = Rp540.000.
- Per bulan: Rp540.000 ÷ 12 = Rp45.000.
Jadi uang yang benar-benar masuk adalah Rp45.000 sebulan, bukan Rp50.000 yang terlihat dari kupon kotor.
Ingin lebih dalam? Artikel ini baru membahas sebagian kecil. Di ebook SBN Ritel untuk Pemula: ORI, SBR, ST, dan Sukuk, kamu akan mempelajari lebih jauh:
- Apa itu SBN ritel dan bedanya dengan deposito serta reksa dana
- Dua keluarga SBN: kupon tetap yang bisa dijual (ORI, SR) dan kupon mengambang dengan batas minimal (SBR, ST)
- Cara membeli lewat mitra distribusi resmi: SID, rekening dana, rekening surat berharga, dan kode pembayaran
Semua langkahnya disusun berurutan dan bisa langsung dipraktikkan. Lihat isi bukunya.
Dibandingkan dengan deposito
Bunga deposito juga dikenai pajak final, tarifnya umumnya 20 persen. Coba bandingkan dengan deposito berbunga contoh 5 persen untuk uang yang sama.
| Komponen | SBN (kupon 6%) | Deposito (bunga 5%) |
|---|---|---|
| Imbal hasil kotor setahun | Rp600.000 | Rp500.000 |
| Pajak final | 10% = Rp60.000 | 20% = Rp100.000 |
| Bersih setahun | Rp540.000 | Rp400.000 |
| Bersih per bulan | Rp45.000 | sekitar Rp33.333 |
Selisih bersihnya Rp140.000 setahun untuk modal Rp10 juta. Tentu angka bunga deposito dan kupon bergerak mengikuti kondisi pasar, jadi bandingkan angka terbaru sebelum memutuskan. Dua instrumen ini juga berbeda cara penjaminannya, sehingga bandingkan juga jaminan dan ketentuan pencairannya.
Naikkan modal, naikkan kupon
Karena hitungannya proporsional, kupon bulanan bersih mudah diperkirakan untuk modal lain. Dengan kupon contoh yang sama, 6 persen setelah pajak 10 persen berarti 5,4 persen per tahun bersih.
| Modal | Bersih setahun | Bersih per bulan |
|---|---|---|
| Rp5.000.000 | Rp270.000 | Rp22.500 |
| Rp10.000.000 | Rp540.000 | Rp45.000 |
| Rp25.000.000 | Rp1.350.000 | Rp112.500 |
Cek ulang: Rp25.000.000 x 5,4% = Rp1.350.000, dan dibagi 12 menjadi Rp112.500. Pembelian SBN ritel biasanya berkelipatan tertentu dan ada batas minimum serta maksimum per seri. Pastikan sesuai ketentuan seri yang kamu pilih.
Kupon bukan satu-satunya yang perlu dihitung
Kupon hanya setengah gambarnya. Hal lain yang perlu kamu pertimbangkan:
- Harga jual sebelum jatuh tempo. Untuk seri yang boleh diperdagangkan, harga di pasar sekunder bisa lebih rendah dari harga beli saat suku bunga naik. Kalau terpaksa jual, kamu bisa rugi.
- Pencairan lebih awal. Beberapa seri punya mekanisme pencairan sebagian dengan syarat dan batas kuota. Pelajari aturannya sebelum membeli.
- Tanggal jatuh tempo. Pastikan uang tidak kamu butuhkan sebelum tanggal itu.
- Biaya dan rekening. Beli lewat mitra distribusi resmi dan periksa apakah ada biaya administrasi di rekening dana atau rekening surat berharga.
Mengatur tangga jatuh tempo
Supaya ada uang masuk secara berkala, kamu bisa membagi modal ke seri dengan jatuh tempo berbeda. Misalnya Rp30 juta dipecah menjadi tiga bagian Rp10 juta dengan jatuh tempo di tahun yang berbeda. Setiap kali satu bagian cair, kamu bisa memutuskan untuk membeli seri baru atau memakai dananya.
Cara ini mengurangi risiko seluruh uang terkunci di satu waktu dan membuat kamu tidak terpaksa menjual sebelum jatuh tempo.
Ingat risikonya
SBN ritel memang dijamin negara untuk pokok dan imbal hasilnya, tetapi bukan berarti tanpa risiko sama sekali. Risiko utamanya adalah risiko pasar jika dijual sebelum jatuh tempo, dan risiko bahwa inflasi lebih tinggi dari imbal hasil sehingga daya beli uangmu menurun. Jangan memakai uang kebutuhan harian atau dana darurat jangka pendek untuk membeli seri yang tidak bisa dicairkan.
Tarif pajak, kupon, dan aturan penjualan dapat berubah. Sebelum membeli, baca ketentuan resmi seri di situs Kementerian Keuangan atau mitra distribusi resmi. Dengan rumus sederhana di atas, kamu bisa menghitung sendiri berapa kupon yang benar-benar akan kamu terima dan membandingkannya secara jujur dengan pilihan lain.
Sebagai latihan, coba hitung milikmu sendiri. Tulis tiga angka: modal yang ingin ditempatkan, kupon per tahun pada seri yang kamu incar, dan tanggal uang itu paling cepat kamu butuhkan. Kalikan modal dengan kupon, kurangi 10 persen untuk pajak, lalu bagi 12. Kalau hasilnya per bulan terasa terlalu kecil untuk tujuanmu, jangan memaksa menaikkan risiko demi imbal hasil. Lebih baik menambah modal secara bertahap, misalnya menyisihkan Rp500.000 setiap bulan, lalu membeli seri berikutnya saat ditawarkan.
Perhatikan pula jadwal penawaran. Pemerintah membuka tiap seri pada periode tertentu, jadi kamu perlu menyiapkan dana sebelum masa penawaran dimulai. Kalau dananya baru ada setelah masa penawaran berakhir, kamu cukup menunggu seri berikutnya tanpa perlu terburu-buru.
Kalau kamu sudah punya SBN lama, cobalah membuat tabel dua kolom: kupon bersih bulanan dan tanggal jatuh tempo tiap seri. Dari tabel itu terlihat bulan mana uang kupon terkumpul paling banyak, sehingga bisa dipakai untuk tagihan rutin seperti listrik atau iuran sekolah. Cara ini membuat SBN terasa lebih nyata sebagai arus kas, bukan sekadar angka di aplikasi.
Kalau artikel ini membantu, langkah berikutnya ada di ebook SBN Ritel untuk Pemula: ORI, SBR, ST, dan Sukuk.
Pelajari sampai tuntas di “SBN Ritel untuk Pemula: ORI, SBR, ST, dan Sukuk”
Setiap beberapa bulan Pemerintah membuka penawaran surat utang khusus untuk perorangan: ORI, SBR, Sukuk Tabungan, dan Sukuk Ritel. Dijamin negara, bisa dimulai dari Rp1 juta, dan p...