Episode 1 dari 2

Rapat yang Katanya Cuma Lima Menit

Bendahara Dadakan RT 05 · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Pak Darmo datang ke rapat RT malam itu untuk satu alasan saja, dan alasan itu digoreng.

"Ada bakwan, Pak," kata Bu Ningsih sebelum berangkat, sambil merapikan kerah kemeja batik suaminya. "Bu Darsih yang bawa. Katanya pakai udang."

Tiga puluh dua tahun bekerja di kantor kecamatan mengajari Pak Darmo banyak hal. Salah satunya: rapat apa pun bisa ditahan asal ada bakwan udang. Sejak pensiun dua tahun lalu, ia jarang datang ke rapat. Tapi bakwan udang buatan Bu Darsih punya reputasi di Perumahan Griya Asri. Orang bilang, kalau Bu Darsih masak, satu blok ikut lapar.

Pos ronda RT 05 malam itu penuh. Kursi plastik merah berderet, termos teh manis berembun, dan di tengah meja ada nampan bakwan yang masih mengepul. Pak Darmo mengambil satu, duduk di kursi paling pojok, lalu mengambil satu lagi untuk berjaga-jaga.

Pak RT, Pak Hendro, mengetuk meja dengan pulpen.

"Bapak-bapak, ibu-ibu, rapat ini cuma lima menit," katanya. "Satu agenda saja."

Seluruh warga yang pernah ikut rapat RT tahu, "cuma lima menit" adalah sebutan resmi untuk rapat yang berakhir pukul sebelas malam.

"Bu Yati, bendahara arisan kita, minggu depan pindah ke Cikarang ikut anaknya," lanjut Pak Hendro. "Jadi kita perlu bendahara baru. Siapa yang bersedia?"

Hening. Pak Hasan dari blok C tiba-tiba sangat tertarik pada kuku jempolnya. Bu Lina mengecek ponsel. Dua bapak di barisan depan mendadak membahas harga gas.

Pak Darmo mengunyah bakwan kedua dengan khidmat. Ia merasa aman. Ia duduk di pojok, ia tidak membawa pulpen, dan ia sudah pensiun. Orang pensiun, menurut perhitungannya, otomatis dibebaskan dari jabatan apa pun.

Lalu perutnya berbunyi. Bukan bunyi lapar. Bunyi bakwan udang ketiga yang tidak sepakat dengan teh manis kental.

"Permisi sebentar," bisiknya kepada Pak Hasan, lalu berjalan cepat ke kamar mandi musala di sebelah pos ronda.


Ia di kamar mandi kira-kira tujuh menit. Waktu yang singkat menurut ukuran dunia. Waktu yang sangat panjang menurut ukuran rapat RT.

Ketika ia kembali, seluruh pos ronda bertepuk tangan.

Pak Darmo berhenti di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, mencari siapa yang sedang disambut. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya, kecuali seekor kucing oranye yang juga tampak bingung.

"Selamat, Pak Darmo!" seru Pak Hendro. "Terpilih secara aklamasi!"

"Terpilih jadi apa?"

"Bendahara arisan RT 05," kata Bu Darsih dari barisan depan. Ia ketua kelompok ibu-ibu, pemilik bakwan udang, dan satu-satunya orang di RT yang bisa membuat Pak RT berhenti bicara hanya dengan berdeham. "Bapak kan pensiunan PNS. Pasti rapi, pasti teliti. Tadi semua setuju."

"Saya kan lagi di kamar mandi."

"Makanya kami bilang aklamasi, Pak," sahut Pak Hasan sambil tersenyum lebar. "Nggak ada yang keberatan, termasuk Bapak."

Logika itu, Pak Darmo harus akui, sulit dibantah. Ia memang tidak keberatan. Ia hanya tidak ada.

Bu Yati, bendahara lama, langsung berdiri dan menyerahkan sebuah tas kain bergambar bunga matahari. Di dalamnya ada buku tulis bersampul plastik, kalkulator dengan angka yang tinggal setengah terbaca, dan amplop cokelat tebal.

"Ini kas arisannya, Pak. Dua puluh peserta, iuran seratus ribu sebulan. Kocokan tiap Minggu pertama. Catatannya lengkap di buku," kata Bu Yati. Lalu ia merendahkan suara. "Yang paling penting, Pak, grup WhatsApp-nya. Nanti saya masukkan Bapak, ya."

"Grup apa?"

"Grup arisan, grup warga, sama grup ibu-ibu."

"Saya bukan ibu-ibu, Bu."

"Bendahara wajib masuk, Pak. Tradisi."

Pak Darmo memeluk tas bunga matahari itu seperti orang memeluk bayi orang lain yang tiba-tiba dititipkan di pasar.


Di rumah, Bu Ningsih menyambutnya dengan wajah yang terlalu tenang. Wajah orang yang sudah tahu sesuatu.

"Selamat ya, Pak Bendahara," katanya.

"Dari mana Ibu tahu?"

Bu Ningsih mengangkat ponselnya. Layarnya penuh notifikasi. "Grup ibu-ibu. Dari tujuh menit yang lalu. Ada foto Bapak waktu jalan ke kamar mandi, dikasih tulisan 'Calon Bendahara Kita'."

Pak Darmo duduk lemas di kursi rotan. "Ibu kok nggak bilang ini rapat pemilihan bendahara?"

"Lho, Bapak berangkatnya kan demi bakwan."

Itu benar, dan menyakitkan.

Malam itu, cucunya, Fikri, yang sedang menginap karena libur sekolah, membantu memasang ulang WhatsApp di ponsel Pak Darmo. Ponsel itu hadiah dari anak sulungnya tahun lalu, dan selama ini dipakai untuk tiga hal: menelepon, melihat ramalan cuaca, dan menonton video cara menanam cabai.

"Kakek, sekarang aku tambahin stiker biar seru," kata Fikri, dua belas tahun, dengan jempol yang bergerak lebih cepat dari mesin ketik kantor kecamatan mana pun. "Ada stiker kucing, stiker jempol, stiker kambing joget..."

"Kakek nggak perlu stiker. Kakek bendahara."

"Bendahara juga manusia, Kek."

Pak Darmo tidak sempat membalas karena ponselnya bergetar tiga kali berturut-turut. Bu Yati menambahkan Anda. Bu Yati menambahkan Anda. Bu Yati menambahkan Anda.

Grup Arisan RT 05. Grup Warga RT 05 (Resmi). Grup Ibu-Ibu Griya Asri Blok B & C.

Dalam sepuluh detik, masuk empat puluh tiga pesan ucapan selamat. Ada yang mengirim bunga, ada yang mengirim doa panjang, ada yang mengirim foto bakwan udang dengan keterangan "berkat bakwan".

Tepat ketika itu, Pak Hendro mengirim pengumuman serius di Grup Warga RT 05 (Resmi):

Mohon perhatian. Mulai bulan depan iuran sampah naik Rp5.000 karena kenaikan tarif dari pengelola. Mohon pengertiannya. Terima kasih.

Grup langsung sunyi. Tidak ada yang suka kenaikan iuran sampah. Semua orang sedang memikirkan kalimat keberatan yang paling sopan.

Pak Darmo, yang ingin terlihat sebagai bendahara yang mendukung pengurus, berniat mengirim stiker jempol.

Ia menekan sesuatu.

Di layar, di Grup Warga RT 05 (Resmi), tepat di bawah pengumuman kenaikan iuran sampah, muncul seekor kambing yang berjoget dengan kacamata hitam, berkedip-kedip, dengan tulisan besar berwarna pelangi:

ASYIIIK!

Fikri menatap layar. Pak Darmo menatap layar. Dari kamar sebelah, terdengar suara Bu Ningsih, pelan tapi jelas:

"Pak... itu barusan Bapak yang kirim?"

Dan ponsel Pak Darmo mulai bergetar tanpa henti.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Atur Keuangan Keluarga untuk Ibu Rumah Tangga

Gaji sudah dibagi untuk dapur, sekolah, listrik, dan cicilan, tetapi minggu terakhir selalu kurang dan paylater mulai jadi kebiasaan. Buku ini mengajak ibu rumah tangga mengatur ua...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu