Kambing Berkacamata Hitam
Dalam satu jam, kambing berkacamata hitam itu sudah menjadi warga paling terkenal di Perumahan Griya Asri.
Pak Darmo mencoba menghapusnya. Ia menekan lama, memilih tong sampah, lalu dengan percaya diri memilih "Hapus untuk saya". Kambing itu hilang dari layarnya. Ia menghela napas lega dan meletakkan ponsel.
"Kakek," kata Fikri pelan, "itu cuma hilang di HP Kakek. Di HP orang lain masih ada."
Pak Darmo mengambil ponsel lagi. Grup Warga RT 05 (Resmi) sudah berisi tujuh puluh dua pesan baru.
Setuju Pak Darmo, kita harus tetap semangat walau iuran naik — Pak Hasan, disertai tiga emoji tertawa.
Bendahara baru langsung kasih motivasi — Bu Lina.
Pak RT, ini artinya Pak Darmo mewakili warga menerima kenaikan dengan gembira ya — seseorang dari blok D yang Pak Darmo bahkan tidak kenal.
Lalu Pak Hendro sendiri membalas: Terima kasih dukungannya, Pak Darmo. Saya terharu.
Pak Darmo tidak tahu apakah itu sindiran atau ucapan tulus. Dengan Pak Hendro, keduanya sering terdengar sama.
Pagi harinya, situasi memburuk dengan cara yang tidak ia duga: kambing itu menjadi lambang.
Ketika ia berjalan ke warung Bu Imah untuk membeli gula, tiga anak SD yang lewat berteriak, "ASYIIIK!" sambil berjoget dengan gaya kambing. Di depan masjid, Pak Hasan menyalaminya sambil berbisik, "Pak, stiker yang tadi malam boleh dikirim ke saya pribadi? Mau saya pakai di grup kantor."
Bahkan Bu Imah, yang biasanya hanya bicara soal harga cabai, menyerahkan kembalian sambil tersenyum. "Pak Bendahara Asyik," katanya.
Gelar baru. Tiga puluh dua tahun ia dikenal sebagai Pak Darmo yang teliti, Pak Darmo yang datang paling pagi, Pak Darmo yang mengoreksi titik koma surat camat. Kini, setelah satu malam, ia Pak Bendahara Asyik.
"Sudahlah, Pak," kata Bu Ningsih sambil menuang teh. "Orang lebih suka bendahara yang lucu daripada bendahara yang galak."
"Saya nggak mau lucu. Saya mau dipercaya."
"Ya kalau begitu, kerjakan saja yang benar. Nanti juga orang lupa kambingnya."
Itu nasihat yang masuk akal. Pak Darmo mengambil tas bunga matahari, menuang isinya ke meja makan, dan untuk pertama kalinya benar-benar membuka buku kas warisan Bu Yati.
Buku itu, terus terang, adalah karya seni.
Bu Yati mencatat dengan pulpen tiga warna. Biru untuk setoran, merah untuk pengeluaran, hijau untuk hal-hal yang tampaknya ia anggap penting tetapi tidak jelas apa. Di halaman Maret ada tulisan hijau: Bu Sumi bayar pakai uang receh, dihitung dua kali, aman. Di halaman April: Pak Hasan janji bayar Jumat (Jumat yang mana?).
Di pojok beberapa halaman ada gambar bunga kecil.
Pak Darmo membetulkan kacamata. Ia sudah memeriksa ribuan laporan di kantor kecamatan, tapi tidak satu pun yang berisi pertanyaan filosofis tentang hari Jumat.
"Fikri," panggilnya, "kamu bisa bikin tabel di HP?"
Fikri, yang sedang tengkurap di karpet, mengangkat kepala dengan mata berbinar. Itu tatapan anak yang akhirnya ditanya soal hal yang ia kuasai.
Satu jam kemudian, mereka berdua duduk berdampingan. Pak Darmo membacakan catatan Bu Yati baris demi baris, Fikri mengetik ke spreadsheet di ponsel. Kolom tanggal, nama, setoran, keterangan. Sederhana.
"Kek, aku kasih warna ya, biar kayak buku Bu Yati."
"Jangan. Satu warna saja. Bendahara itu bukan pelukis."
"Bu Yati pelukis, Kek?"
"Bu Yati itu... seniman pencatatan."
Bu Ningsih ikut duduk, membawa piring pisang goreng. Ia melirik buku kas, lalu tersenyum. "Pak, uang arisan jangan dicampur sama uang dapur, ya. Taruh di amplop sendiri. Jangan di dompet Bapak."
"Lho, memangnya kenapa?"
"Bapak itu kalau beli gorengan suka ambil uang dari kantong mana saja. Nanti uang arisan jadi bakwan."
Pak Darmo ingin membantah, tapi ia teringat tiga bakwan di rapat semalam. Ia diam dan menurut. Amplop cokelat kas arisan ia simpan di laci lemari jati, laci kedua, terpisah dari dompet, terpisah dari uang belanja. Di sampul amplop ia tulis besar-besar dengan spidol: KAS ARISAN RT 05. JANGAN DIPINJAM SIAPA PUN, TERMASUK SAYA.
Lalu, karena kebiasaan lama sulit mati, ia merobek selembar kertas dari buku tulis Fikri dan menulis Peraturan Bendahara yang ia tempel di pintu lemari dengan selotip:
1. Uang masuk dicatat hari itu juga. 2. Uang arisan tidak boleh mampir ke dompet. 3. Setiap setoran harus ada saksinya, minimal Ibu. 4. Jangan kirim stiker sebelum membaca ulang.
Fikri membaca daftar itu, lalu menambahkan nomor lima dengan pensil: Kalau bingung, tanya cucu. Pak Darmo pura-pura tidak melihat, tapi tidak menghapusnya.
"Kek," tanya Fikri, "kenapa Kakek mau repot-repot? Kan cuma arisan."
Pak Darmo berpikir sebentar. "Karena orang menitipkan uang itu sama dengan menitipkan percaya. Uang bisa diganti. Percaya susah."
Fikri mengangguk, seolah mengerti, lalu bertanya apakah kepercayaan bisa ditukar dengan es krim. Pak Darmo menjawab tidak, dan ia tetap membelikan es krim.
Malamnya, untuk membuktikan bahwa ia bendahara yang serius, Pak Darmo memutuskan menghitung ulang seluruh isi amplop sebelum kocokan pertama di bawah kepemimpinannya.
Menurut buku Bu Yati, ditambah setoran bulan ini yang sudah masuk, kas seharusnya berisi dua juta tiga ratus ribu rupiah.
Ia menghitung lembar demi lembar di meja makan, di bawah lampu neon yang sedikit berkedip. Lembar seratus ribuan ia susun ke kanan, lima puluh ribuan ke kiri, dua puluh ribuan di tengah, persis seperti kebiasaannya dulu menghitung uang kas kecil kantor.
Satu juta. Satu juta lima ratus. Satu juta delapan ratus. Dua juta.
Habis.
Ia menghitung ulang. Dua juta.
Fikri ikut menghitung. Dua juta.
Bu Ningsih, yang jarinya paling cepat menghitung uang karena puluhan tahun mengurus belanja dapur, menghitung untuk ketiga kalinya. Dua juta, pas.
Mereka bertiga saling pandang.
"Kurang tiga ratus ribu," kata Pak Darmo pelan, seperti orang mengumumkan hasil pemeriksaan dokter.
Fikri menelan ludah. "Kek... kambingnya nggak mungkin ambil, kan?"
Di meja, ponsel Pak Darmo menyala. Sebuah pesan masuk di Grup Arisan RT 05, dari Bu Darsih:
Pak Bendahara Asyik, besok sore saya mampir ya. Mau lihat buku kas. Biar semua transparan dari awal.
Diikuti stiker kambing berkacamata hitam.