Episode 1 dari 2

Dua Aturan Bu Darmi

Kamar Nomor Tujuh · 20 Okt 2026 · 5 menit baca

Rumah itu lebih tua daripada yang terlihat di foto iklan.

Ayu berdiri di depan pagar besi yang catnya sudah mengelupas, menyeret koper dengan roda yang sejak terminal Jombor berbunyi seperti mengeluh. Di foto, rumah kos itu tampak teduh: pendapa kecil, pohon sawo kecik, lantai tegel kuning. Aslinya pun begitu, hanya saja semua terlihat sedikit lebih lelah. Daun sawo menumpuk di sudut halaman, dan papan kayu bertuliskan Kos Putri Wisma Melati miring ke kiri, seperti orang yang sedang menahan kantuk.

"Mbak Ayu, nggih? Yang dari Magelang?"

Seorang perempuan tua muncul dari balik pintu samping. Rambutnya disanggul kecil, kebaya rumahnya warna cokelat pudar, dan matanya sedikit keruh, seperti kaca jendela yang lama tidak dilap. Ia memegang segenggam kunci yang diikat tali rafia merah.

"Nggih, Bu. Bu Darmi?"

"Iya, iya. Monggo masuk. Wah, kopernya besar. Bawa apa saja, Mbak? Batu bata?" Bu Darmi tertawa kecil, lalu terbatuk.

Ayu ikut tertawa. Lega rasanya. Ibu kos yang bisa bercanda biasanya tidak galak, begitu kata Mbak Wulan, kakak sepupunya yang dulu kuliah di Yogya.

Lorong rumah itu panjang dan sejuk. Kamar-kamar berjajar di kiri dan kanan, pintunya kayu jati bercat hijau tua, masing-masing diberi nomor dari pelat kuningan. Nomor satu sampai enam di sisi kiri, delapan sampai dua belas di sisi kanan. Ayu menghitung dua kali. Nomor tujuh ada di ujung lorong, sendirian, di dinding yang menghadap ke arah mereka masuk. Pintunya lebih gelap dari yang lain, seolah catnya diulang lebih sering.

Di atas pintu itu tergantung sebuah jam dinding kayu dengan bandul kuningan. Bandulnya diam. Jarumnya menunjuk pukul dua lewat tujuh belas.

"Jamnya mati, Bu?"

Bu Darmi tidak langsung menjawab. Ia memilih kunci dari genggamannya, lalu membuka pintu nomor sembilan. "Ini kamar Mbak Ayu. Dekat kamar mandi, jendelanya ke kebun. Kalau pagi, burung prenjak sering mampir."

Kamarnya bersih dan wangi kapur barus. Kasur busa, lemari kayu, meja belajar di bawah jendela. Ayu menaruh tasnya dan menoleh lagi ke lorong. Bu Darmi masih berdiri di ambang pintu, tetapi pandangannya ke ujung lorong, ke jam yang tidak bergerak.

"Di rumah ini cuma ada dua aturan, Mbak," kata Bu Darmi akhirnya. Suaranya tetap ramah, tetapi lebih pelan. "Satu, kamar nomor tujuh tidak disewakan, jadi tidak usah dibuka-buka. Dua, jam itu jangan diputar. Biarkan saja seperti itu."

"Nggih, Bu."

"Selebihnya bebas. Mau masak, mau ajak teman belajar sampai malam, asal pagar dikunci jam sepuluh." Bu Darmi tersenyum lagi, dan wajahnya kembali seperti tadi, ramah dan sedikit jenaka. "Nanti sore kenalan sama Mbak Sekar dan Mbak Nanda. Mereka anak lama. Sekar itu farmasi, galak tapi baik. Nanda itu penakut, jangan diajak nonton film hantu."


Sekar ternyata memang galak. Atau mungkin hanya terlalu jujur.

"Kamu tanya soal kamar tujuh, ya?" katanya sore itu, sambil mengaduk mi instan di dapur belakang. Rambutnya dikuncir asal, kacamatanya melorot. "Semua anak baru tanya itu. Jawabannya: itu gudang. Bu Darmi orangnya rapi, barang-barang lama disimpan di situ. Selesai."

"Kalau jamnya?"

"Mati. Orang tua kadang sayang sama barang rusak." Sekar mengangkat bahu. "Nenekku menyimpan radio yang sudah sepuluh tahun tidak bunyi."

Nanda, yang duduk di kursi plastik sambil memeluk lutut, mendengus. "Gudang kok dikunci dua."

"Karena isinya barang," kata Sekar.

"Barang kok diajak ngobrol," balas Nanda pelan.

Ayu menatap mereka bergantian. "Diajak ngobrol?"

Sekar memutar bola matanya. "Bu Darmi kadang ngomong sendiri. Orang tua. Tinggal sendirian bertahun-tahun, wajar."

"Bukan cuma ngomong," kata Nanda. "Kadang nyanyi. Malam-malam."

Sekar menunjuk Nanda dengan garpu. "Kamu, jangan bikin anak baru nggak bisa tidur di malam pertama."

Nanda diam. Tetapi sebelum Ayu kembali ke kamarnya, Nanda menahan lengannya di lorong dan berbisik, "Kalau malam dengar sesuatu, jangan dibuka pintunya. Ya?"


Malam pertama di kota baru selalu terasa terlalu sunyi.

Ayu sudah menyusun baju di lemari, menempel jadwal ospek di dinding, dan menelepon Ibu sampai baterai ponselnya tinggal sedikit. Ibu menyuruhnya makan, tidur cepat, dan jangan lupa salat. Ayu mengiyakan semuanya, lalu berbaring menatap langit-langit papan yang bernoda bekas bocor berbentuk seperti peta pulau yang tidak ia kenal.

Ia tertidur sebelum jam sebelas.

Ia terbangun tanpa tahu sebabnya.

Kamar gelap. Dari jendela, cahaya lampu kebun masuk tipis-tipis melalui tirai. Ayu meraih ponsel di samping bantal. Layarnya menyala terlalu terang, membuat matanya menyipit.

02.17.

Ia hampir tertawa. Kebetulan yang konyol, pikirnya. Jam di lorong mati di menit yang sama, dan ponselnya kebetulan menunjukkan angka itu saat ia terbangun. Otaknya pasti merekam angka tadi siang dan sekarang mempermainkannya.

Lalu ia mendengarnya.

Suara itu sangat pelan, seperti datang dari jauh, atau dari balik banyak dinding. Seseorang bersenandung. Bukan lagu yang Ayu kenal dari radio. Nadanya naik turun dengan sabar, seperti tembang Jawa yang biasa dinyanyikan simbahnya untuk menidurkan cucu-cucu. Tidak ada kata-kata, hanya nada, berulang, berulang.

Ayu menahan napas. Ia menunggu suara itu berhenti. Suara itu tidak berhenti.

Pelan-pelan ia turun dari kasur. Lantai tegel dingin di telapak kakinya. Ia membuka pintu sedikit, cukup untuk mengintip ke lorong.

Lorong gelap, kecuali satu garis cahaya kuning tipis di bawah pintu nomor tujuh di ujung sana.

Senandung itu datang dari situ.

Ayu tidak bergerak. Ia ingat kata-kata Nanda, ingat aturan Bu Darmi, dan untuk pertama kali sejak tiba di Yogya ia merasa benar-benar jauh dari rumah. Garis cahaya itu bergoyang sedikit, seperti ada seseorang yang lewat di depan lampu di dalam kamar.

Lalu senandung itu berhenti. Cahaya di bawah pintu padam.

Ayu menutup pintu kamarnya pelan-pelan, menguncinya, dan duduk di kasur sambil memeluk bantal sampai azan subuh terdengar dari masjid kampung.


Pagi harinya ia hampir yakin semua itu mimpi.

Matahari masuk lewat jendela, prenjak benar-benar bernyanyi di kebun, dan dari dapur tercium bau tempe goreng. Ayu mengikat rambut, mengambil handuk, dan membuka pintu kamar.

Selembar kertas terlipat jatuh dari celah pintu ke lantai. Kertas buku tulis bergaris, sudutnya sudah menguning.

Ayu memungutnya dan membukanya.

Hanya ada satu kalimat, ditulis dengan pensil, hurufnya miring dan rapi seperti tulisan anak sekolah yang rajin:

Jam berapa sekarang?

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini, gratis. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu