Jam yang Tidak Mau Jalan
"Ini pasti kerjaan Nanda."
Sekar membolak-balik kertas itu di bawah lampu dapur, seperti sedang memeriksa resep dokter yang tulisannya meragukan. Nanda, yang sedang menuang teh, hampir menjatuhkan teko.
"Aku? Aku semalam tidur pakai earphone, nyetel murottal sampai pagi. Mana berani aku jalan ke lorong jam dua?"
"Justru karena kamu penakut, kamu paling semangat nakut-nakutin orang lain," kata Sekar.
"Itu teori ngawur."
Ayu duduk di antara mereka, memegang cangkir teh yang tidak juga ia minum. "Kertasnya sudah kuning. Kayak kertas lama."
"Buku tulis lama banyak di pasar loak," kata Sekar. "Pensil juga ada di mana-mana."
"Tapi tulisannya," kata Ayu. "Kalian lihat huruf j-nya. Ekornya melengkung ke kiri, kayak tulisan zaman Ibu sekolah dulu. Diajari halus kasar."
Sekar diam sebentar, lalu melipat kertas itu dan mengembalikannya. "Oke. Satu poin buat misteri. Tapi tetap, hantu nggak pakai pensil."
Nanda menggumam sesuatu yang terdengar seperti kamu belum tahu, lalu menyibukkan diri dengan gorengan.
Bu Darmi sarapan sendiri di pendapa, seperti setiap pagi, menurut Sekar. Sepiring nasi, sayur bening, dan secangkir teh tubruk yang gulanya banyak. Radio kecil di sampingnya memutar siaran berita berbahasa Jawa.
Ayu memberanikan diri duduk di kursi rotan di seberangnya.
"Bu, semalam saya dengar orang nyanyi. Kira-kira jam dua."
Sendok Bu Darmi berhenti di udara sebentar, lalu turun lagi pelan-pelan. "Oh. Mungkin saya, Mbak. Saya kalau nggak bisa tidur suka nembang. Maaf, ya, kalau mengganggu."
"Dari kamar tujuh, Bu?"
Bu Darmi menatapnya lama. Matanya yang keruh itu tiba-tiba terasa sangat jernih.
"Kamar tujuh itu dulu kamar anak saya," katanya akhirnya. "Kadang saya duduk di sana kalau kangen. Ndak apa-apa, to?"
"Ndak apa-apa, Bu. Maaf, saya nggak tahu."
"Namanya Rahayu." Bu Darmi tersenyum kecil, menatap halaman yang penuh daun sawo. "Orang rumah manggilnya Ayu. Sama kayak Mbak."
Ayu tidak tahu harus berkata apa, jadi ia diam. Radio di meja berganti ke lagu campursari. Bu Darmi mengangguk-angguk mengikuti irama, seolah percakapan tadi tidak pernah ada.
"Jamnya juga punya Mbak Rahayu, Bu?"
"Jam itu hadiah dari bapaknya waktu Ayu masuk SMA. Biar nggak telat sekolah, katanya." Bu Darmi tertawa pendek. "Tetap saja dia sering telat."
"Kenapa nggak dibetulkan, Bu? Mungkin cuma baterainya. Eh, jam bandul ya, berarti pernya. Di Malioboro ada tukang servis jam, saya bisa—"
"Jangan."
Kata itu tidak diucapkan dengan keras. Tetapi cara Bu Darmi mengucapkannya, sambil meletakkan tangan di atas tangan Ayu, membuat Ayu langsung menutup mulut.
"Jangan diputar, Nduk," kata Bu Darmi, lebih lembut. "Biar saja dia berhenti di situ. Ibu yang minta."
Nduk. Ibu. Ayu baru sadar Bu Darmi menyebut dirinya Ibu, bukan Bu Darmi, bukan saya.
Kertas bertulisan Jam berapa sekarang? itu Ayu selipkan di antara halaman buku agendanya. Setiap kali membuka agenda untuk mencatat tugas ospek, kertas itu jatuh, dan setiap kali pula ia memungutnya lagi tanpa tahu kenapa ia tidak membuangnya saja.
Hari-hari ospek membuat Ayu terlalu lelah untuk memikirkan apa pun. Ia pulang setiap sore dengan kaki pegal dan kepala penuh yel-yel, makan bersama Sekar dan Nanda, lalu tidur sebelum jam sepuluh. Dua malam ia tidak terbangun sama sekali. Kertas di bawah pintu tidak muncul lagi.
Sekar mulai meledeknya. "Hantunya sudah bosan sama kamu. Kurang seru."
Nanda tidak ikut tertawa. Pada malam ketiga, saat mereka menonton sinetron di ruang tengah, Nanda tiba-tiba bertanya, "Ayu, kamu tahu nggak kenapa anak-anak lama pada pindah?"
"Anak lama?"
"Sebelum aku masuk, kos ini isinya hampir penuh. Terus satu-satu pindah. Ada yang bilang dengar orang nyanyi, ada yang bilang jamnya kadang bunyi tik-tik sendiri. Yang terakhir, Mbak Ratri, pindah tengah malam. Bawa koper doang, barangnya diambil adiknya seminggu kemudian." Nanda merapatkan selimut di pangkuannya. "Mbak Ratri cuma bilang satu hal. Katanya, di kamar tujuh ada orang yang nunggu jam."
"Nunggu jam?"
"Itu kata dia. Aku juga nggak ngerti."
Sekar mematikan televisi. "Sudah. Bubar. Besok praktikum jam tujuh."
Malam itu Ayu sengaja tidak tidur.
Ia tidak sepenuhnya tahu kenapa. Mungkin karena kata-kata Nanda, mungkin karena cara Bu Darmi memanggilnya Nduk. Ia duduk bersandar di kepala kasur dengan lampu mati, ponsel di tangan, layar diredupkan sampai paling gelap.
01.50. 02.03. 02.11.
Rumah sangat sunyi. Bahkan jangkrik di kebun berhenti. Ayu bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dan di sela itu, suara kipas angin di kamar Sekar di sebelah.
02.16.
02.17.
Senandung itu datang tepat ketika angka di layar berubah, seperti seseorang yang sudah menunggu aba-aba.
Kali ini Ayu tidak ragu. Ia membuka pintu kamarnya dan melangkah ke lorong. Lantai tegel dingin. Lampu lorong mati, hanya ada cahaya kuning tipis dari bawah pintu nomor tujuh dan sedikit cahaya bulan dari jendela di atas pintu dapur.
Jam dinding di atas pintu itu tetap diam. Dua lewat tujuh belas.
Ayu melangkah satu, dua, tiga langkah. Senandung itu makin jelas. Suara perempuan, masih muda. Bukan suara Bu Darmi. Suara Bu Darmi serak dan berat. Suara ini jernih, sedikit sumbang di nada tinggi, seperti remaja yang bernyanyi sambil mengerjakan PR.
Ayu berhenti tepat di depan pintu. Ia mengangkat tangan, tetapi tidak mengetuk.
Senandung itu berhenti.
Lalu, pelan sekali, dengan bunyi engsel tua yang panjang, pintu nomor tujuh terbuka sendiri. Hanya selebar telapak tangan.
Cahaya kuning dari dalam jatuh ke kaki Ayu. Dari celah itu ia bisa melihat sebagian kamar: lantai tegel yang sama, ujung kasur berseprai bunga, dan sebuah meja belajar kayu di bawah lampu belajar yang menyala. Di atas meja itu ada sebuah buku tulis bersampul batik cokelat, terbuka, seolah seseorang baru saja berhenti menulis.
Tidak ada siapa-siapa di kursi.
Dan di halaman yang terbuka itu, dengan huruf miring dan rapi yang sama seperti di kertas pagi itu, tertulis besar-besar nama yang membuat lutut Ayu lemas:
Ayu.